MAMUJU, RAKYATSULBAR.COM — Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Mamuju melaksanakan Praktik Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana (PKKB) dengan melibatkan berbagai mitra dan instansi terkait kebencanaan. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 8 hingga 11 Juni 2026, itu dipusatkan di Auditorium dan Lapangan Kampus Negeri Poltekkes Kemenkes Mamuju.
Kegiatan ini digelar sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang kerap terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Melalui praktik tersebut, mahasiswa dibekali pemahaman tentang mitigasi dan penanganan krisis kesehatan saat terjadi bencana.
Pada tiga hari pertama, peserta menerima materi teori dari sejumlah narasumber yang berasal dari berbagai lembaga mitra, di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Basarnas, PMI Sulbar, PSC 119 Mamuju, serta Poltekkes Kemenkes Mamuju. Sementara pada hari keempat, kegiatan ditutup dengan simulasi penanganan bencana yang melibatkan seluruh peserta.
Ketua Panitia, Fajar Akbar, SKM., M.Kes, mengatakan sebanyak 77 mahasiswa tingkat dua mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari empat jurusan, yakni Keperawatan, Kebidanan, Sanitasi, dan Gizi.
“Seluruh mahasiswa didampingi oleh dosen pembimbing dan instruktur dari masing-masing jurusan. Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar sesuai harapan kami sebagai dosen pembimbing lapangan,” ujarnya.
Fajar menilai para mahasiswa telah memahami peran masing-masing saat simulasi berlangsung. Mereka mampu mengikuti arahan dari mitra maupun dosen pembimbing yang mendampingi selama kegiatan.
Keseruan simulasi terlihat saat mahasiswa memerankan berbagai skenario kebencanaan, mulai dari korban bencana, keluarga korban, tim evakuasi hingga tim rescue. Seluruh peserta menjalankan tugasnya dengan penuh totalitas untuk menggambarkan kondisi penanganan bencana yang sesungguhnya.
Salah satu mahasiswa yang berperan sebagai tim rescue, Siska Sapotia, mengatakan penanganan korban bencana membutuhkan koordinasi dan kekompakan tim yang baik.
“Pertolongan terhadap korban bencana membutuhkan kerja sama dan fokus dalam setiap tindakan demi keselamatan jiwa korban,” katanya.
Sementara itu, Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Poltekkes Kemenkes Mamuju, Agus Erwin Ashari, SKM., M.Kes, menyampaikan bahwa praktik tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya karena melibatkan mahasiswa dari empat jurusan sekaligus.
Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin sangat penting dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana, baik pada tahap pra-bencana, tanggap darurat maupun pascabencana.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder dan mitra yang telah berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari pemberian materi hingga pelaksanaan simulasi lapangan.
“Terima kasih kepada seluruh mitra yang telah mendukung kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa,” tutupnya. (AN)








