PAREPARE, RAKYATSULBAR.COM — Aktivitas masyarakat di sejumlah ruas jalan Kota Parepare menjadi perhatian Satuan Samapta Polres Parepare melalui patroli perintis Presisi Commander Wish dan patroli dialogis, Minggu (30/8/2026).
Patroli yang dimulai sekitar pukul 08.30 Wita itu menyasar sejumlah titik yang menjadi pusat mobilitas masyarakat. Selain memantau kondisi keamanan, personel juga melakukan pengaturan lalu lintas untuk menjaga pergerakan kendaraan tetap aman dan lancar.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa patroli kepolisian tidak hanya berfungsi sebagai respons terhadap gangguan keamanan, tetapi juga sebagai instrumen pencegahan.
Dengan kehadiran personel secara langsung di lapangan, polisi berupaya mendeteksi potensi gangguan sejak dini sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat.
Patroli dipimpin Danru Aiptu Jamaluddin dengan melibatkan tiga personel Sat Samapta, yakni Aipda Asri Hamzah, Bripda Dirga Aslam, dan Bripda Muh Faiq Faraj.
Rute patroli mencakup sejumlah ruas jalan di wilayah hukum Polres Parepare, antara lain Jalan Veteran, Jalan Bau Massepe, Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Lasinrang, Jalan Agussalim, Jalan Lahalede, hingga Jalan Karaeng Burane.
Personel tidak hanya melintas di ruas jalan tersebut. Mereka juga menyambangi titik-titik yang menjadi pusat keramaian, kawasan permukiman, objek vital, serta lokasi perbelanjaan masyarakat.
Pola seperti ini penting karena gangguan kamtibmas tidak selalu muncul di lokasi yang sama. Mobilitas masyarakat yang dinamis membuat kepolisian perlu mengubah pendekatan dari sekadar menjaga titik tertentu menjadi pemantauan situasi secara bergerak dan berkelanjutan.
Di sisi lain, kehadiran polisi di tengah aktivitas warga juga memberi efek pencegahan. Masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa aparat hadir dan memantau kondisi lingkungan.
Salah satu aspek yang menonjol dalam kegiatan tersebut adalah patroli dialogis.
Personel Sat Samapta berinteraksi langsung dengan warga di sejumlah lokasi. Dalam komunikasi itu, polisi menyampaikan pesan kamtibmas sekaligus mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menjaga keamanan lingkungan.
Pendekatan ini memperlihatkan perubahan penting dalam pola pemeliharaan keamanan. Keamanan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada kepolisian karena masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan lingkungan masing-masing.
Warga dapat menjadi sumber informasi awal ketika muncul potensi gangguan. Karena itu, komunikasi yang terbuka antara masyarakat dan polisi menjadi bagian penting dari sistem pencegahan.
Kasat Samapta Polres Parepare AKP Muh. Habir mengatakan patroli dilakukan sebagai langkah preventif sekaligus untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.
“Patroli ini tidak hanya berorientasi pada pemantauan situasi, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat. Kami mengajak warga bersama-sama menjaga keamanan dan segera menyampaikan kepada petugas apabila menemukan hal yang berpotensi mengganggu kamtibmas,” ujar AKP Muh. Habir.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa patroli dialogis memiliki dua fungsi sekaligus. Pertama, menjaga kehadiran polisi di lapangan. Kedua, membangun jejaring komunikasi agar informasi mengenai potensi gangguan keamanan dapat diterima lebih cepat.
Selain persoalan keamanan, patroli juga menyentuh aspek kelancaran lalu lintas.
Sejumlah ruas jalan yang menjadi jalur aktivitas warga dipantau untuk memastikan arus kendaraan tetap berjalan lancar. Personel turut melakukan pengaturan ketika dibutuhkan.
Kelancaran lalu lintas menjadi bagian dari rasa aman masyarakat. Ketika mobilitas warga terganggu, persoalannya tidak hanya menyangkut perjalanan, tetapi juga aktivitas ekonomi, perdagangan, pekerjaan, dan layanan publik.
Karena itu, pengamanan jalan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pelayanan kepolisian kepada masyarakat.
Dalam konteks Kota Parepare yang memiliki sejumlah ruas jalan dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat cukup tinggi, kehadiran petugas di lapangan menjadi salah satu langkah preventif untuk menjaga situasi tetap terkendali.
Patroli rutin juga memperlihatkan bahwa menjaga kamtibmas bukan semata-mata persoalan seberapa banyak personel yang diturunkan.
Efektivitas pengamanan sangat ditentukan oleh kemampuan membaca situasi, memilih lokasi prioritas, membangun komunikasi, dan merespons informasi masyarakat.
Karena itu, patroli dialogis memiliki nilai strategis. Polisi memperoleh gambaran mengenai kondisi lingkungan dari interaksi langsung, sementara masyarakat mendapat ruang untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Pola tersebut juga dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap kepolisian. Hubungan polisi dan warga tidak berhenti pada penindakan, tetapi berkembang menjadi kerja sama dalam mencegah gangguan keamanan.
AKP Muh. Habir menegaskan bahwa patroli akan terus diarahkan pada upaya pencegahan agar potensi gangguan keamanan dapat diantisipasi sedini mungkin.
“Kami berharap masyarakat tetap beraktivitas dengan nyaman. Keamanan merupakan tanggung jawab bersama. Polisi hadir untuk memberikan perlindungan dan pelayanan, sementara masyarakat dapat membantu dengan menjaga lingkungan serta tidak ragu berkomunikasi dengan petugas,” katanya.
Pesan tersebut memiliki arti penting. Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai pihak yang menerima pelayanan keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari sistem keamanan lingkungan.
Dengan demikian, partisipasi warga menjadi elemen penting dalam menjaga stabilitas Kota Parepare.
Warga dapat berkontribusi melalui kepedulian terhadap lingkungan, kewaspadaan terhadap kondisi sekitar, serta komunikasi cepat dengan aparat apabila menemukan situasi yang berpotensi menimbulkan gangguan.
Patroli perintis Presisi dan patroli dialogis pada akhirnya bukan hanya persoalan kegiatan rutin kepolisian.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga rasa aman melalui kehadiran aparat, pencegahan, dan komunikasi publik.
Tantangannya adalah memastikan patroli benar-benar adaptif terhadap perkembangan situasi, bukan sekadar menjadi agenda berulang tanpa evaluasi.
Karena itu, pemetaan wilayah rawan, evaluasi rute patroli, penguatan komunikasi dengan masyarakat, serta kecepatan merespons laporan warga perlu berjalan beriringan.
Jika pola tersebut konsisten, patroli dapat memberikan manfaat yang lebih besar. Polisi tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, tetapi juga hadir sebelum gangguan keamanan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Patroli Polres Parepare pada Minggu pagi tersebut menunjukkan bagaimana pendekatan preventif dan dialogis dapat berjalan bersamaan.
Personel memantau ruas jalan, menyambangi pusat aktivitas masyarakat, melakukan pengaturan lalu lintas, serta berkomunikasi langsung dengan warga.
Hasilnya, situasi kamtibmas selama kegiatan berlangsung dilaporkan aman, tertib, dan kondusif.
Namun, capaian tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari proses yang harus dijaga secara berkelanjutan. Sebab, keamanan kota tidak cukup dibangun melalui patroli sesaat.
Dibutuhkan konsistensi kepolisian, respons cepat terhadap informasi, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga kamtibmas di Parepare bukan hanya ditentukan oleh seberapa sering polisi berpatroli, tetapi juga seberapa kuat hubungan antara polisi dan masyarakat dalam mencegah gangguan keamanan sejak awal.
Dengan pendekatan tersebut, patroli bukan sekadar aktivitas berkeliling kota. Patroli menjadi bentuk kehadiran negara yang langsung dirasakan masyarakat sekaligus ruang untuk membangun kepercayaan publik.








