Menjaga ASEAN Heritage Park dari Ancaman Spesies Invasif

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Upaya menjaga kelestarian Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dari ancaman Jenis Asing Invasif (JAI) terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya melalui Landscape Inception Workshop Proyek Strengthening Capacities for Management of Invasive Alien Species (SMIAS) in Indonesia yang digelar di Makassar, Jumat (4/9).

Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan (Karantina Sulawesi Selatan), Sitti Chadidjah, turut menghadiri kegiatan tersebut bersama berbagai pemangku kepentingan dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, organisasi masyarakat, sektor swasta, media, hingga komunitas.

Taman Nasonal Bantimurung Bulusaraung menjadi salah satu lanskap prioritas pelaksanaan Proyek SMIAS di Indonesia. Kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi tersebut menghadapi tantangan keberadaan jenis asing invasif, salah satunya Spathodea campanulata, yang penyebarannya menjadi perhatian dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem.

Proyek SMIAS sendiri dirancang untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam mencegah, mengelola, dan mengendalikan Jenis Asing Invasif melalui pendekatan terpadu. Upaya tersebut mencakup penguatan kebijakan dan kelembagaan, penerapan praktik pengelolaan, peningkatan kapasitas para pihak, penguatan sistem informasi, hingga peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Landscape Inception Workshop menjadi forum awal untuk membangun pemahaman bersama mengenai arah pelaksanaan proyek di TN Bantimurung Bulusaraung. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan, membangun mekanisme koordinasi, membagi peran, serta menghimpun masukan dari para pihak dalam mendukung implementasi proyek secara berkelanjutan.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ahmad Munawir, menegaskan bahwa keberadaan Spathodea perlu mendapat perhatian serius karena kemampuan tumbuh dan penyebarannya yang dapat memengaruhi keberadaan vegetasi lokal.

“Taman Nasional Bantimurung

Bulusaraung itu tarafnya sudah internasional sehingga kelestariannya wajib kita jaga. Tantangan besar yang kita hadapi saat ini adalah ancaman hilangnya biodiversitas akibat keberadaan spesies invasif seperti Spathodea. Pohon ini bunganya cantik dan menarik, tetapi sifatnya sangat invasif,” ujar Ahmad.

Perhatian terhadap ancaman jenis asing invasif semakin penting mengingat TamanNasonal Bantimurung Bulusaraung telah memperoleh pengakuan sebagai salah satu ASEAN Heritage Park. Status tersebut menempatkan kawasan ini sebagai bagian penting dari upaya konservasi keanekaragaman hayati di tingkat regional.

Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah, menyampaikan bahwa keberadaan Jenis Asing Invasif menjadi tantangan yang memerlukan kewaspadaan sekaligus kolaborasi kuat antarpemangku kepentingan.

Menurutnya, perlindungan sumber daya hayati tidak dapat dilakukan secara parsial karena ancaman terhadap biodiversitas dapat memberikan dampak yang luas terhadap keseimbangan ekosistem.

“Jenis asing invasif menjadi salah satu ancaman yang perlu kita waspadai bersama. Pencegahan, deteksi dini, pertukaran informasi, hingga pengendalian membutuhkan sinergi lintas sektor. Karantina memiliki peran penting pada aspek pencegahan masuk dan tersebarnya organisme yang berpotensi mengancam kelestarian sumber daya hayati,” ujar Sitti. la menambahkan, status TN Bantimurung Bulusaraung sebagai ASEAN Heritage Park menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan kekayaan hayati di dalamnya tetap

terlindungi.

“Bantimurung Bulusaraung bukan hanya kekayaan Sulawesi Selatan, tetapi bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang telah mendapat pengakuan di tingkat regional. Kolaborasi seperti ini sangat penting agar setiap pihak dapat mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya. Karantina Sulawesi Selatan siap mendukung upaya tersebut sebagai bagian dari komitmen menjaga sumber daya hayati Indonesia,” tambahnya.

  • Bagikan