Tak Hanya Tubuh, Jiwa Juga Butuh Dirawat: Makna di Balik Hari Kesehatan Mental Sedunia

  • Bagikan
Mental Health is a Universal Human Right

MAMUJU, RAKYATSULBAR.COM — Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day). Momen tahunan ini bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan ajakan global untuk lebih peduli terhadap kesejahteraan jiwa sesuatu yang sering kali terlupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama kali dideklarasikan oleh World Federation of Mental Health (WFMH) pada tahun 1992. Tahun ini, tema yang diangkat secara global adalah “Mental Health is a Universal Human Right” atau “Kesehatan Mental adalah Hak Asasi Manusia”. Tema ini menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai, tanpa diskriminasi, tanpa stigma, dan tanpa rasa malu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan mental, mulai dari depresi, kecemasan, hingga stres berat. Pasca pandemi COVID-19, angka tersebut terus meningkat menunjukkan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Di Indonesia, kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental perlahan meningkat. Berbagai komunitas, sekolah, hingga lembaga pemerintah mulai aktif menyuarakan pentingnya menjaga kesehatan jiwa dan memberikan ruang aman bagi siapa pun yang sedang berjuang.

Selain itu, sejumlah organisasi dan platform digital juga terus menggelar kampanye #BeraniBicara dan #JagaJiwa, mengajak masyarakat untuk lebih terbuka terhadap isu mental dan saling mendukung satu sama lain.

💬 “Tidak Apa-Apa untuk Tidak Baik-Baik Saja”
Pesan sederhana namun kuat ini menjadi semangat dari peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini. Setiap orang memiliki pergumulan dan luka batin masing-masing. Maka, memahami, mendengarkan, dan hadir untuk sesama bisa menjadi bentuk kepedulian kecil yang berdampak besar.

“Kadang, kita tidak butuh solusi, hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan,” ungkap Nadia (27), seorang penyintas depresi yang kini aktif sebagai relawan komunitas kesehatan mental di Jakarta.
Bagi Nadia, berbagi cerita menjadi langkah awal untuk pulih. “Saya dulu takut dianggap lemah, tapi setelah berani cerita, ternyata banyak yang memahami. Itu membantu saya sembuh,” katanya.

Makna di Balik Hari Kesehatan Mental Sedunia
Hari ini mengingatkan kita bahwa jiwa juga butuh dirawat, sama seperti tubuh. Istirahat, berbagi, mencari bantuan profesional, atau sekadar menenangkan diri — semuanya adalah bagian dari proses menjaga kesehatan mental.

Karena sejatinya, kesehatan mental bukan hanya tentang tidak memiliki gangguan, melainkan tentang bagaimana seseorang merasa cukup kuat, damai, dan mampu menjalani hidup dengan harapan.

“Mari berhenti bilang ‘gitu aja galau’.
Setiap orang berhak merasa lemah, tapi juga berhak untuk pulih.” (*)

  • Bagikan