GOWA, RAKYATSULBAR.COM — PKM Psikoedukasi gelar kegiatan Peningkatan Motivasi Berprestasi, Kesiapan Karier, serta Pencegahan Kenakalan Remaja dan Perilaku Bullying pada Siswa
Kegiatan ini dilakukan di SMK Negeri 3 Gowa 6 Mei 2026, dengan menyasar siswa-siswi di dua ruang kelas berbeda dengan fokus materi yang disesuaikan dengan tantangan perkembangan usia remaja dan persiapan vokasional.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi dan meningkatkan kemampuan analisa serta kesadaran mental para siswa.
Fokus utamanya adalah membangun motivasi berprestasi melalui perubahan pola pikir, mempersiapkan mental dan kompetensi siswa untuk menghadapi transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja, serta menekan angka kenakalan remaja, khususnya perilaku perundungan (bullying), melalui pendekatan empati dan regulasi emosi.
Menurut Novita Maulidya Jalal, S.Psi., M.Psi., Psikolog., selaku salah satu pengabdi, tim berupaya mengatasi permasalahan psikologis dan sosial yang kerap dihadapi oleh remaja usia sekolah menengah.
Program ini hadir untuk membimbing siswa-siswi SMK agar tidak hanya memiliki keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga ketahanan mental (soft skills) yang kuat agar dapat tumbuh, berkembang, dan bersaing secara optimal di masyarakat.
Pengabdian ini diinisiasi oleh tim dosen dari institusi terkait yang diprakarsai oleh Novita Maulidya Jalal, S.Psi., M.Psi., Psikolog., St. Hadjar Nurul Istiqamah, S.Psi., M.Psi., Psikolog., Rahmawati Syam, S.Psi., M.Psi., Psikolog., Nur Akmal, S.Psi., M.A., serta Ismalandari Ismail, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Pemilihan materi psikoedukasi dirancang secara spesifik dan dibagi ke dalam dua kelas agar penyampaian materi lebih tepat sasaran.
Pentingnya Growth Mindset dan Kesiapan Karier
Di kelas pertama, edukasi difokuskan pada fondasi mental untuk masa depan. Sesi awal dibawakan secara komprehensif oleh Novita Maulidya Jalal, S.Psi., M.Psi., Psikolog., yang mengangkat topik tentang Growth Mindset (pola pikir berkembang) dalam kaitannya dengan motivasi berprestasi. Dalam pemaparannya, beliau mengedukasi siswa bahwa kecerdasan dan bakat bukanlah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa diubah (fixed mindset), melainkan dapat terus diasah melalui dedikasi, kerja keras, dan kemauan untuk belajar dari kegagalan.
Pendekatan edukatif ini sangat penting bagi siswa SMK agar mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan belajar atau praktik kejuruan, melainkan melihat tantangan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.
Sesi selanjutnya di kelas yang sama dilanjutkan oleh St. Hadjar Nurul Istiqamah, S.Psi., M.Psi., Psikolog., dan Rahmawati Syam, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Kedua pemateri ini membedah topik krusial mengenai Adaptasi dan Kesiapan Karier.
Mengingat siswa SMK dipersiapkan untuk langsung terjun ke dunia industri dan usaha setelah lulus, edukasi ini memberikan pandangan nyata mengenai ekspektasi dunia kerja.
Pemateri menjelaskan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja yang dinamis, etika profesional, serta cara mengenali potensi diri guna memilih jalur karier yang selaras dengan minat dan bakat.
Dengan pemahaman ini, siswa diharapkan tidak mengalami culture shock ketika beralih dari lingkungan sekolah ke lingkungan profesional.
Mencegah Bullying Melalui Empathic Love dan Regulasi Diri
Sementara itu, di kelas kedua, atmosfer edukasi lebih difokuskan pada dinamika sosial dan perilaku interpersonal remaja. Pemateri Nur Akmal, S.Psi., M.A., bersama Ismalandari Ismail, S.Psi., M.Psi., Psikolog., mengangkat isu yang sangat relevan saat ini, yakni Kenakalan Remaja dan Perilaku Bullying.
Menariknya, pencegahan perundungan di kelas ini diedukasikan melalui pendekatan Empathic Love dan Self-Regulation. Para siswa diajak untuk menyelami perasaan orang lain dan menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama teman (empathic love). Edukasi ini mengajarkan bahwa lingkungan sekolah yang aman hanya bisa tercipta jika setiap individu mampu menghargai perbedaan dan saling mendukung.
Selain itu, siswa juga dibekali dengan keterampilan self-regulation. Metode edukasi ini melatih siswa untuk mengelola emosi negatif, seperti amarah, frustrasi, atau rasa iri sehingga mereka tidak bertindak impulsif yang berujung pada perilaku merugikan orang lain. Melalui pengenalan regulasi diri ini, remaja didorong untuk memikirkan dampak jangka panjang dari setiap tindakan mereka, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Antusiasme dan Respons Positif
Selama proses kegiatan psikoedukasi berlangsung, suasana di kedua kelas berjalan dengan sangat interaktif, hangat, dan jauh dari kesan kaku. Para peserta yang merupakan siswa-siswi SMK Negeri 3 Gowa sangat aktif dalam menjalankan kegiatan melalui metode ceramah dua arah, diskusi kelompok interaktif, tanya jawab, serta analisis studi kasus sehari-hari. Siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berani membagikan pengalaman, kekhawatiran terkait masa depan karier mereka, hingga fenomena pergaulan yang sering mereka hadapi.
Respons positif yang luar biasa tidak hanya datang dari para peserta didik, tetapi juga dari pimpinan dan tenaga pendidik setempat. Kepala SMK Negeri 3 Gowa, Bapak Muhammad Jafar, S.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran tim pengabdi di sekolahnya.
Beliau menyatakan bahwa sinergi antara akademisi dan praktisi psikologi dengan pihak sekolah merupakan langkah nyata dalam mendukung perkembangan psikis siswa. Menurutnya, kegiatan ini memberikan dampak positif yang signifikan dalam memperkuat pondasi karakter siswa sebelum mereka terjun ke masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, program pengabdian ini disambut dengan tangan terbuka dan diapresiasi penuh oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMK Negeri 3 Gowa, yakni Bapak Muh. Adri Latif, S.Pd., dan Bapak A. Muhammad Ainun, S.Psi.
Dalam penutupannya, Bapak Muh. Adri Latif, S.Pd. mewakili pihak sekolah menyatakan bahwa program psikoedukasi ini menjadi penguatan yang sangat berarti bagi siswa untuk semakin termotivasi dalam belajar dan mempersiapkan mentalnya. Beliau menilai bahwa materi yang disampaikan sangat sejalan dengan visi sekolah dalam mencetak lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan berkarakter baik.
Ditambahkan pula oleh Bapak A. Muhammad Ainun, S.Psi., bahwa kehadiran akademisi dan praktisi psikologi secara langsung memberikan warna baru dalam bimbingan konseling di sekolah. Penanganan isu pergaulan melalui metode empathic love dinilai sangat inovatif dan aplikatif untuk diterapkan di lingkungan sekolah. Diharapkan kegiatan kolaboratif seperti ini dapat terus dipertahankan dan dilakukan lagi kedepannya demi pendampingan psikologis siswa yang berkelanjutan.
Diharapkan kegiatan edukatif, inspiratif, dan kolaboratif seperti ini dapat terus dipertahankan dan dilakukan lagi kedepannya untuk memberikan pendampingan psikologis yang berkelanjutan bagi generasi muda di Sulawesi Selatan. (*)








