Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali)
Hiduplah bagai lebah, menjumput yang baik, dan mengeluarkan yang baik.
Lebah adalah hewan yang sangat istimewa. Selain memproduksi madu yang beraneka khasiat, serangga ini juga membantu penyerbukan. Tak kurang, sarang hexagonalnya dapat dijadikan lilin sementara air liurnya berbentuk propolis memulihkan kesehatan manusia. Nama an-Nahl diabadikan menjadi salah satu surah dalam Al-Quran yang berarti anugerah.
Istimewanya lagi lebah menjadi symbol high achiever yaitu kreativitas, kerja keras, kepatuhan, keikhlasan dan kemakmuran. Itulah mengapa setiap 20 Mei, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menasbihkan sebagai Peringatan Hari Lebah Sedunia (World Bee Day).
Karakter unggulan lebah dapat menjadi penggugah manusia sebagai sokoguru kehidupan.
Pertama, Disiplin. Lebah mengumpulkan nektar dari bunga-bunga dan membawanya ke sarang. Dalam sarang, nektar ini diubah menjadi madu lewat proses fermentasi yang dilakukan oleh lebah yang lain. Setiap lebah memiliki peranannya masing-masing dan mereka menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Artinya, disiplin adalah kunci untuk mencapai efisiensi dan kesuksesan hidup.
Kedua, Etos Kerja. Seekor lebah bisa mengunjungi dua juta bunga, terbang sejauh 88.000 km (54.680 mil) untuk menghasilkan 500 gram (1 pon) madu.
Lebah adalah simbol kerja keras yang tak kenal lelah. Siapa pun harus berkomitmen untuk bekerja keras dan konsisten dalam mengejar impian dan tujuan kita.
يا ايها الانسان انك كادح الى ربك كدحا فملقيه
Hai manusia kamu telah bekerja bersungguh sunggu kepada Tuhanmu, maka kamu akan menemuinya.
Ketiga, Fleksibilitas. Lebah mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Mereka dapat
menyesuaikan pola penerbangan dan pengumpulan nektar tergantung pada faktor-faktor seperti cuaca dan ketersediaan sumber daya. Sehingga fleksibilitas adalah kunci untuk bertahan dalam lingkungan yang selalu berubah. Kita perlu kesiagaan untuk menghadapi tantangan dan menemukan solusi kreatif guna mengatasi hambatan yang mungkin muncul di sepanjang hidup.
Keempat, Solidaritas Sosial. Lebah adalah serangga sosial, hidup bersama dalam koloni keluarga besar yang terorganisasi dengan apik dan baik. Ia bersusah payah mengumpukan madu hanya diperuntukkan untuk manusia. Bayangkan, makhluk kecil ini menghasilkan 1,6 juta ton setiap tahun dari 81 juta sarang. Sekitar 2 miliar manusia hidup dari peternakan lebah.
Lebah juga sejenis agroekosistem yang menjadi penyerbuk dari putik ke putik kembang. Ada tiga perempat jenis tanaman pangan global dari hasil penyerbukan lebah.
Jadi, manakala manusia ingin menangguk sukses hiduplah seperti lebah. Seperti sabda Rasulullah Saw:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النَّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيْبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ
“Perumpamaan seorang mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi). (*)






