Oleh: Dr.KH.Muhammad Ishaq Samad, MA (Ketua Umum DPP IMMIM)
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Di era informasi yang serba cepat ini, wajah agama sering kali hadir melalui layar ponsel. Media sosial telah menjadi “mimbar baru” yang menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik. Namun, tantangan besar muncul, bagaimana memastikan pesan suci tetap disampaikan dengan cara yang santun dan tidak justru memicu perpecahan?
Dakwah bukan lagi sekadar ceramah satu arah di dalam rumah ibadah. Kini, dakwah hadir dalam bentuk infografis estetis, video pendek (Reels/TikTok), podcast, hingga tulisan utas di X (Twitter). Transformasi ini menuntut para pendakwah digital untuk memahami “bahasa” internet tanpa kehilangan esensi nilai spiritualnya.
Dakwah yang ramah ( dakwah bil-hikmah ) di ruang digital memerlukan beberapa pendekatan khusus: Bahasa yang Inklusif, Bukan Eksklusif, karena itu gunakan diksi yang merangkul dan mudah dipahami oleh orang awam. Hindari istilah teknis yang terlalu berat atau nada bicara yang menghakimi ( judgmental ). Selain itu, Visual yang Menyejukkan, seperti warna, tipografi, dan komposisi gambar sangat berpengaruh. Visual yang rapi dan estetis cenderung lebih diterima dan dibagikan ( shareable ) oleh audiens generasi Z dan Milenial. Demikian pula Empati Digital, dengan memahami konteks masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Dakwah yang relevan adalah dakwah yang menjawab kegelisahan batin manusia modern, seperti kesehatan mental, integritas kerja, dan keharmonisan keluarga.
Menjadi pendakwah digital berarti memikul tanggung jawab moral yang besar. Berikut adalah prinsip utama agar dakwah tetap bertanggung jawab; diantaranya Verifikasi Sumber (Tabayyun): Jangan terburu-buru membagikan hadis atau kutipan tanpa memastikan kesahihannya. Di dunia digital, jejak digital sulit dihapus; satu kesalahan informasi dapat menyesatkan ribuan orang. Selanjutnya Menghargai Perbedaan Pendapat: Ruang komentar sering menjadi medan konflik. Pendakwah yang bertanggung jawab harus mampu mengelola diskusi dengan kepala dingin, tidak memancing amarah, dan tahu kapan harus berhenti berdebat. Demikian pula perlunya Etika Hak Cipta: Mengutip pemikiran orang lain atau menggunakan aset visual karya orang lain harus disertai kredit yang jelas. Ini adalah bentuk amanah ilmiah.
Algoritma media sosial cenderung menyukai konten yang kontroversial atau memicu emosi negatif ( outage ). Dakwah digital harus melawan arus ini dengan tetap konsisten pada konten yang membawa kedamaian ( islah ). Keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari jumlah likes atau followers, melainkan dari sejauh mana pesan tersebut mengubah perilaku pembacanya menjadi lebih baik.
Dakwah digital adalah peluang emas sekaligus ujian bagi umat beragama. Dengan mengedepankan keramahan dan rasa tanggung jawab, kita bisa menjadikan internet sebagai ruang yang lebih hangat, penuh ilmu, dan memberikan manfaat bagi sesama manusia. Mari kita jadikan setiap unggahan kita sebagai amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan.
Wallahu Waliyyul Muttaqien. (*)








