Aksa Mahmud Kuasai 49,88 Persen Saham PT Fajar Indonesia Corporindo

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Pendiri Bosowa Corporindo, HM Aksa Mahmud, resmi menjadi pemegang saham terbesar di PT Fajar Indonesia Corporindo setelah mengakuisisi saham milik Jawa Pos dan Dorothea Samola. 

Dengan transaksi tersebut, kepemilikan saham Aksa Mahmud kini mencapai 49,88 persen di perusahaan yang menjadi holding seluruh unit usaha Fajar Group.

PT Fajar Indonesia Corporindo membawahi berbagai lini bisnis, mulai dari media cetak, media siber, media elektronik, properti, klinik, transportasi, universitas, hingga sejumlah bidang usaha lainnya.

Direktur Utama PT Fajar Indonesia Corporindo, Suhendro Boroma, menjelaskan perubahan komposisi kepemilikan saham tersebut dalam konferensi pers di Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (23/7/2026). 
Kegiatan itu turut dihadiri HM Aksa Mahmud, Andi Syafiuddin Makka, Syamsul Nur, serta Rektor Universitas Bosowa Prof. Batara Surya.

Menurut Suhendro, posisi Aksa Mahmud kini menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut.

“Posisi Pak Aksa itu hampir 50 persen (saham), 49,88 persen,” ungkapnya.

Ia menerangkan, persentase tersebut berasal dari pembelian 40,5 persen saham milik Jawa Pos dan 5,6 persen saham Dorothea Samola. Sementara itu, kelompok ahli waris Chairman Fajar Group almarhum HM Alwi Hamu tercatat masih menguasai sekitar 32 persen saham. 
Sejumlah saham lainnya dimiliki oleh M. Jusuf Kalla, Syamsul Nur, Andi Syafiuddin Makka, Zulkifli Gani Otto, serta Fajar Perintis.

Meski demikian, Suhendro menegaskan pihaknya tidak dapat membeberkan rincian kepemilikan masing-masing pemegang saham karena PT Fajar Indonesia Corporindo masih berstatus sebagai perusahaan tertutup.

Ia juga memastikan bahwa transaksi pembelian saham dilakukan langsung atas nama pribadi HM Aksa Mahmud, bukan melalui Bosowa Corporindo.

Lebih lanjut, Suhendro mengungkapkan keputusan Aksa Mahmud membeli saham tersebut bukan semata-mata pertimbangan bisnis, melainkan didorong oleh ikatan sejarah yang kuat. Menurutnya, Fajar Group lahir dari kebersamaan tiga tokoh pendiri, yakni HM Aksa Mahmud, M. Jusuf Kalla, dan almarhum HM Alwi Hamu, yang telah lama menjalin persahabatan dan merintis berbagai usaha bersama.

Sementara itu, HM Aksa Mahmud mengakui pembelian saham PT Fajar Indonesia Corporindo sebenarnya tidak termasuk dalam agenda investasi Bosowa pada 2026. 

Namun, ia merasa perlu mengambil langkah tersebut setelah mendapat informasi mengenai pelepasan saham oleh Jawa Pos.

Aksa mengungkapkan, sebelum memutuskan membeli saham tersebut, dirinya sempat menawarkan kesempatan itu kepada Komisaris Utama Fajar Group Agus Salim, putra almarhum HM Alwi Hamu. Namun karena tidak dapat direalisasikan, ia akhirnya mengambil alih saham yang ditawarkan.

Keputusan tersebut, kata Aksa, dilakukan untuk menjaga kesinambungan sejarah berdirinya Fajar Group yang dirintis bersama dua sahabatnya.

“Supaya tetap kita pertahankan trio pendiri dari pada Fajar Indonesia Corporindo, itu historisnya,” katanya.

Aksa juga mengenang bahwa pada awal berdirinya Harian Fajar, dirinya bersama M. Jusuf Kalla sepakat mempercayakan pengelolaan media kepada almarhum HM Alwi Hamu. 

Menurutnya, Alwi memiliki kemampuan jurnalistik yang kuat dan mampu mendedikasikan waktu untuk mengembangkan perusahaan media, sementara dirinya dan Jusuf Kalla telah lebih dahulu disibukkan dengan aktivitas bisnis di bidang lain.

  • Bagikan