Oleh: Abd Rauf Muhammad Amin
Guru Besar UIN Alauddin Makassar
MAKASSAR, RALYATSULBAR.COM – Program Haji dan Umrah Tamu Penjaga Dua Masjid Suci merupakan salah satu program diplomasi keagamaan paling bergengsi yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sejak diluncurkan pada 1997, program yang berada di bawah Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan ini mengundang para ulama, akademisi, imam masjid, tokoh masyarakat, serta pemimpin komunitas Muslim dari berbagai negara untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah dengan seluruh biaya ditanggung oleh Raja Arab Saudi. Lebih dari sekadar perjalanan ibadah, para tamu juga mengikuti agenda ilmiah, dialog keagamaan, dan kunjungan ke berbagai situs bersejarah Islam sebagai bagian dari upaya mempererat ukhuwah Islamiyah dan hubungan antarbangsa.
Tahun ini, atas arahan Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, program umrah tersebut melibatkan 1.000 jamaah dari berbagai negara yang diberangkatkan secara bertahap. Gelombang pertama diikuti peserta dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Indonesia memperoleh kuota 40 peserta yang mengikuti program pada 8–20 Juli 2026. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ulama, pimpinan pesantren, imam masjid, hingga akademisi. Saya adalah salah seorang akademisi yang mendapatkan kehormatan mewakili kalangan akademisi Indonesia dalam program tersebut. Satu hari sebelum keberangkatan, dubes Arabd Saudi melepas peserta dan saya mewakili rombongan untuk memberi sambutan singkat dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan apresiasi kepada Raja Salman, Putera mahkota, dan Duta besar. Sesampai di Madinah kementerian menunjuk lagi mewakili rombongan indonesia untuk untuk wawancara media seputar tanggapan terkait programa ini. Sebuah pengalaman luar biasa.
Keterlibatan tokoh-tokoh akademik menunjukkan bahwa program ini bukan semata-mata memfasilitasi ibadah, melainkan juga menjadi ruang pertukaran pemikiran, penguatan jejaring keilmuan, dan diplomasi keagamaan.
Namun, memahami Program Umrah Tamu Raja hanya sebagai bentuk kemurahan hati Kerajaan tentu belum cukup. Program ini sesungguhnya merupakan bagian dari strategi besar Arab Saudi dalam memperkuat perannya sebagai pelayan umat Islam dunia. Di sinilah hubungan program tersebut dengan Saudi Vision 2030 menjadi sangat penting.
Selama ini, Saudi Vision 2030 sering dipahami sebagai agenda diversifikasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada sektor minyak. Pandangan tersebut memang benar, tetapi belum menggambarkan keseluruhan visi yang ingin diwujudkan. Di balik pembangunan kota-kota modern, investasi teknologi, dan reformasi ekonomi, terdapat satu agenda fundamental yang menjadi identitas Arab Saudi, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu Allah. Pelayanan terhadap jamaah haji dan umrah bukan sekadar sektor layanan publik, melainkan bagian dari tanggung jawab historis Kerajaan sebagai Penjaga Dua Masjid Suci (Khadim al-Haramain al-Syarifain).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pilgrim Experience Program, salah satu program utama Saudi Vision 2030 yang bertujuan menghadirkan pengalaman ibadah yang semakin mudah, nyaman, aman, dan berkesan. Berbagai proyek strategis terus dikembangkan, mulai dari perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pembangunan jaringan transportasi modern seperti Haramain High Speed Railway, digitalisasi layanan melalui aplikasi Nusuk, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia yang melayani jamaah dari seluruh dunia. Semua kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan bahwa setiap tamu Allah memperoleh pelayanan terbaik.
Dalam konteks itulah Program Umrah Tamu Raja memiliki posisi yang sangat strategis. Program ini menjadi etalase yang memperlihatkan secara langsung hasil transformasi yang sedang berlangsung di Arab Saudi. Para peserta tidak hanya menjalankan ibadah umrah, tetapi juga menyaksikan bagaimana teknologi, manajemen modern, dan pelayanan profesional dipadukan dengan penghormatan terhadap kesucian dua tanah haram. Pengalaman tersebut kemudian dibawa pulang ke negara masing-masing sebagai kesaksian mengenai perubahan yang tengah berlangsung di Arab Saudi.
Lebih jauh, program ini merupakan instrumen soft power yang sangat efektif. Dalam hubungan internasional, pengaruh tidak selalu dibangun melalui kekuatan politik, ekonomi, atau militer. Pengaruh juga lahir dari kemampuan menghadirkan nilai, pelayanan, dan pengalaman yang membangun kepercayaan. Melalui pelayanan kepada tamu Allah, Arab Saudi memperkuat citranya sebagai pusat pelayanan dunia Islam sekaligus memperkokoh hubungan dengan para ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat Muslim dari berbagai negara.
Bagi Indonesia, keikutsertaan para ulama dan akademisi dalam program ini memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar memenuhi undangan kerajaan. Program ini membuka ruang dialog intelektual, memperkuat hubungan kelembagaan, mempererat ukhuwah Islamiyah, sekaligus menghadirkan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung transformasi pelayanan yang menjadi salah satu wajah Saudi Vision 2030.
Program Umrah Tamu Raja menunjukkan bahwa Saudi Vision 2030 bukan semata proyek transformasi ekonomi, tetapi juga proyek peradaban. Modernisasi yang dijalankan Arab Saudi tidak diarahkan untuk menjauh dari identitas keislamannya, melainkan justru memperkuat peran historisnya sebagai pelayan tamu-tamu Allah. Dari sinilah tampak bahwa pelayanan yang unggul dapat menjadi bentuk ibadah, instrumen diplomasi, sekaligus fondasi kepemimpinan Arab Saudi di tengah dunia Islam yang terus berkembang.








