Kepemimpinan Perempuan dan Masa Depan Peradaban Digital

  • Bagikan

Momentum Pelantikan Direktur Pendidikan Pondok Pesantren Putri Modern IMMIM Minasatene Pangkep

Oleh: Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D. of Arts
Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Saudaraku, tidak semua peristiwa penting hadir dalam kemegahan. Sebagian dapat berlangsung sederhana saja, namun menyimpan makna yang jauh melampaui peristiwa itu sendiri. Pelantikan Prof. Muzdalifah sebagai Direktur Pendidikan Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene, Pangkep, merupakan salah satu momentum demikian.

Pelantikan itu memiliki arti yang istimewa. Prof. Muzdalifah bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga alumni dari lembaga pendidikan yang pernah membentuk dirinya dan kini mempercayakan kepemimpinan kepadanya. Hal ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan sebuah siklus pendidikan yang utuh: pesantren melahirkan kader, dan kader kembali mengabdi untuk memajukan almamaternya.

Lebih dari itu, kepercayaan tersebut menjadi pengakuan bahwa pesantren mampu melahirkan perempuan-perempuan yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan kemampuan kepemimpinan.

Kehadiran Prof. Muzdalifah diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh santri, khususnya para santriwati, untuk terus berprestasi, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mengabdikan diri kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara. Pelantikan Prof. Muzdalifah, oleh karena itu harus dipandang penting bukan hanya untuk keberlanjutan pesantren putri IMMIM sebagai sebuah institusi pendidikan. Pelantikan juga mengajak kita merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang ingin kita persiapkan untuk masa depan? Dan pendidikan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah?

Saudaraku, pertanyaan ini terasa semakin penting ketika kita menyaksikan dunia bergerak begitu cepat. Teknologi digital mengubah cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan memahami diri kita sendiri. Informasi hadir dalam hitungan detik. Jarak seolah lenyap oleh layar-layar yang menghubungkan manusia dari berbagai penjuru dunia.

Namun di tengah kemudahan itu, kita juga menyaksikan sesuatu yang lain. Pengetahuan semakin mudah diperoleh, tetapi kebijaksanaan tidak selalu tumbuh bersamanya. Komunikasi semakin cepat, tetapi tidak selalu membuat kita lebih memahami satu sama lain. Kita hidup dalam dunia yang semakin terkoneksi, tetapi pada saat yang sama sering kali merasa semakin terasing.

Saudaraku, di sinilah pendidikan menemukan kembali makna terdalamnya. Pendidikan tidak hanya bertugas membuat manusia menjadi lebih pintar, tetapi juga membantu manusia belajar menjadi manusia, membentuk cara kita berpikir, merasakan, memandang sesama, dan mengambil tanggung jawab atas kehidupan bersama.

Pesantren memiliki tempat yang istimewa dalam perjalanan pendidikan bangsa. Sejak awal, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk adab. Pesantren tidak hanya mengembangkan kecerdasan akal, tetapi juga menumbuhkan kepekaan hati. Dalam tradisi pesantren, ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri, tetapi selalu ditempatkan dalam horizon kemanfaatan, kebijaksanaan, dan pengabdian.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, warisan seperti inilah yang justru semakin bernilai. Ketika ruang digital dipenuhi informasi yang tidak selalu dapat diverifikasi, ketika media sosial sering menjadi arena pertentangan, dan ketika generasi muda berhadapan dengan berbagai krisis identitas, kita memerlukan lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Kita memerlukan kompas moral yang membantu membedakan mana yang berguna dan mana yang menyesatkan, mana yang mempersatukan dan mana yang memecah-belah.
Saudaraku, oleh karena itu di bawah kepemimpinan Prof. Muzdalifah, kita berharap semoga kepemiminan pendidikan Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene tidak berhenti pada romantisme masa lalu.

Saudaraku. Tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang membeku. Tradisi itu tumbuh, berdialog, dan menemukan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan ruh yang menghidupinya. Sebagai pesantren modern, tantangannya bukanlah pada memilih antara tradisi atau teknologi,6 melainkan mempertemukan keduanya dalam satu visi pendidikan yang utuh.
Dalam konteks Sulawesi Selatan, kita beruntung memiliki warisan budaya yang kaya untuk menopang visi tersebut. Kearifan Bugis-Makassar telah lama mengajarkan nilai-nilai yang tetap relevan bahkan di tengah dunia yang berubah sangat cepat. Kita mengenal acca sebagai kecendekiaan, lempu’ sebagai kejujuran, warani sebagai keberanian moral, dan getteng sebagai keteguhan hati.
Nilai-nilai itu mengingatkan bahwa kecerdasan tidak pernah cukup jika tidak disertai kejujuran. Keberanian tidak memiliki makna tanpa kebijaksanaan. Dan keteguhan dapat kehilangan arah apabila tidak dibarengi keterbukaan untuk belajar.

Saudaraku, dalam konteks pembimbingan generasi muda, pendidikan perempuan memperoleh arti yang semakin besar. Dan ketika kita berbicara tentang pendidikan perempuan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan peradaban. Dari tangan perempuan lahir generasi-generasi baru. Dari keteladanan perempuan tumbuh nilai-nilai kehidupan. Dari kepemimpinan perempuan lahir ruang-ruang pembelajaran yang membentuk karakter masyarakat.
Islam telah lama mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kualitas iman, ilmu, dan amal kebajikannya.

Karena itu, kepemimpinan perempuan dalam pendidikan bukanlah soal persaingan, melainkan soal amanah.
Saudaraku, di sinilah arti penting Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep menjadi semakin jelas. Lembaga ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang persemaian bagi lahirnya generasi perempuan Muslim yang berakar pada nilai-nilai Islam, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta siap menghadapi tantangan dunia yang terus berubah.

Masa depan pesantren modern tidak ditentukan oleh seberapa cepat mengikuti perkembangan teknologi, melainkan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan. Teknologi akan terus berubah. Platform digital akan terus berganti. Namun nilai-nilai yang membentuk manusia tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan.
Karena itu, pelantikan ini sesungguhnya membawa harapan yang lebih besar sekaligus menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali keyakinan bahwa pendidikan pada akhirnya adalah pekerjaan peradaban. Sebuah ikhtiar panjang untuk membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadirkan kebaikan bagi sesama.

  • Bagikan