Ketika Penguji Ujian Promosi Doktor Sebut “Yang Terhormat” Berkali-kali: Itu Siasat atau Topeng Palsu? Bikin Rontok Marwah dan Sakralnya Sidang Promosi Doktor

  • Bagikan

Penulis: Abbas Selong

Penasehat DPD LSM MAUNG (Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan) Sulawesi Selatan.

Sidang ujian promosi doktor itu bukan ajang “pidato adab”, itu ajang “bedah mayat ilmiah”

Ketika “Yang Terhormat” diulang berkali-kali oleh penguji dalam sidang promosi doktor, dan saling mengumumkan gelar panjang, itu sama halnya marwah sidang dikubur hidup hidup.

Siasat penyebutan “Yang Terhormat” berkali kali itu sama saja mengalihkan substansi ke seremonial, taktik bunuh waktu, aman buat penguji yang tidak siap menguji, dan kandidat selamat dari bedah tajam.

Itu motif siasat selamatkan muka penguji yang tidak siap, tidak menguasai materi tapi malu mengakui, maka jurus alihkan ke protokoler “Yang Terhormat” menjadi jurus ulur waktu.

Siasat dan topeng palsu itu, hasilnya cuma akting, marwah dan nilai sakral sidang doktor rontok.

Rontok ke kandidat: empat tahun darah tercurah, keringat dan air mata menetes, ternyata “Yang Terhormat” itu penghinaan paling halus.

Rontok ke ilmu: disertasi kacau di metodologi tetap lolos, karena tidak ada yang bedah, yang dibedah cuma tatanan duduk.

Rontok ke publik: orang tua, istri dan anak yang hadir nonton jadi berfikir: oh gelar doktor itu cuma begini toh?, yang banyak sambutan.

Adab: satu kali “Yang Terhormat”, satu kali “Terima Kasih” di akhir, itu sudah cukup.

Sisanya, hormati kandidat doktor dengan pertanyaan berkelas, itu adab paling tinggi.

Penguji yang mengaku ahli tapi bertele tele dan berputar putar, itu 90℅ indikasi dia menutupi ketidak tahuannya, 10℅ sisanya dia lagi main psikologi, berbasa basi dan bikin lucu lucu.

“Yang Terhornat” yang diulang berkali kali, seperti kaset rusak justru bisa menurunkan marwah, bukan menaikkan, paradoksnya disitu.

Marwah sidang doktor itu ada di tiga hal: Kedalaman, Kejujuran dan Kewibawaan. Nah, ketika “Yang Terhormat” disebut berkali kali oleh penguji justru merusak ketiganya:

  1. Merontokkan Kedalaman: sidang doktor itu puncaknya tradisi “disputation” dari abad pertengahan. Intinya: adu argumen ilmiah setajam silet.

Tapi, bila “Yang Terhormat” disebut berkali kali, waktu tergerus, waktu emas buat bedah pokok pokok bahasan habis. Marwah adu gagasan berubah jadi upacara basa basi, sakralnya rontok.

  1. Merontokkan kejujuran intelektual: ilmu itu jujur, kalau tidak tau bilang tidak tau, jika paham bilang paham. Karena marwah tertinggi akademisi justru saat dia bilang: bagian ini saya belum paham, bisa promovendus jelaskan lagi?. Itu lebih terhormat dari pada menutup pakai siasat dan topeng palsu.
  2. Merontokkan wibawa penguji sendiri: ironi memang, maksudnya ingin kelihatan berwibawa, hasilnya malah sebaliknya, mahasiswa yang hadir, tamu undangan dan semua orang diruangan itu pintar, mereka bisa membedakan mana “wibawa dari ilmu” dan mana “wibawa dari kata”.

Penguji yang sekali buka mulut, langsung tusuk ke metodologi, disegani.

Penguji yang lima menit sebut “Yang Terhormat”, membuat dibelakang bisik bisik: kaya’nya beliau ini hanya berspekulasi habisi waktu buat tutupi ketidak tahuannya. Jadi, marwah penguji sendiri yang rontok duluan.

Sakralnya sidang doktor bukan di “Yang Terhormat”, bukan di toga, bukan pula ditepuk tangan, sakralnya ada di momen ini: seorang manusia diuji gagasan hidupnya empat tahun oleh 5-7 orang yang lebih senior didepan umum tanpa bisa bohong.

Sidang doktor itu harusnya upacara pemurnian ilmu, ruang paling sakral setelah ruang operasi, tapi kalau isinya spam, ruang sakral itu berubah jadi ruang resepsi. Sakral artinya setiap data diuji, rontok artinya setiap kata dipuji.

Kalau kita bedah pakai logika sidang, memang ada korelasi kuat antara basa basi panjang dengan penguasaan substansi rendah. Ini istilahnya di dunia akademik: Verbosity as a Defense Mechanism.

Logikanya sederhana: penguji yang kuasai materi pertanyaannya tajam dan pendek, tapi penguji yang kurang kuasai materi, kalimatnya umum, berputar, dan bertele tele.

Ini bukan fitnah, Guru Besar Harvard Derek Bok juga bilang bahwa: kalau seseorang butuh 500 kata untuk tanyakan sesuatu yang bisa dijawab 20 kata, biasanya dia tidak paham pertanyaannya sendiri.

Marwah akademik tidak dibangun dari pengulangan kata, marwah akademik dibangun dari pengulangan pengujian: diuji datanya, diuji logikanya dan diuji keberaniannya jujur.

Itu ritual pelatihan dari mahasiswa jadi rekan sejawat, dari belajar ilmu jadi menghasilkan ilmu.

Nah, kalau ritual sakral itu diisi basa basi kosong, rasanya seperti nikah tapi penghulunya berputar putar bicaranya, sah tapi hambar, tidak ada getar ilmiahnya.

Jadi, solusinya bukan hapus “Yang Terhormat”, tapi, Adab minimalis, substansi maksimalis, marwah naik, waktu efisien dan kandidat doktor juga lega.

“Yang Terhormat” disebut berkali kali itu seperti wallpaper emas di gubuk, dari jauh kelihatan mewah, saat didekati kelihatan kosong.

Marwah ilmiah dan sakralnya sidang promosi doktor justru muncul saat penguji berani telanjang secara intelektual: dia tanyakan yang dia tidak tau, mengakui kehebatan temuan atau membantah pakai data, itu baru “Yang Terhormat”. Wsslm.absdbk.

  • Bagikan