Piala Dunia, Cabo Verde, dan Duta Bangsa

  • Bagikan

Oleh: Dr. H. Kaswad Sartono, M.Ag
Dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Alauddin

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Terus terang, mungkin karena kurang pengalaman, atau karena negaranya memang jarang menjadi perbincangan, saya baru benar-benar mengenal Cabo Verde -yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi Tanjung Verde, ketika menyaksikan pertandingan Piala Dunia antara Argentina melawan Cabo Verde di TVRI Sport tadi pagi.

Begitu menit ke-29, ketika Lionel Messi menjebol gawang Vozinha, saya sempat mematikan televisi. Logika saya sederhana: pertandingan ini sepertinya tidak seimbang. Argentina adalah juara dunia, sedangkan Cabo Verde hanyalah pendatang baru.

Namun sepak bola selalu punya cara memporakporandakan, bahkan mengolok-olok logika.

Di Piala Dunia, terutama fase gugur, rumus matematika sering kali kalah oleh semangat juang dan nasionalisme. Di sinilah lahir ungkapan klasik, bola itu bundar. Tim unggulan bisa tersungkur, sementara tim yang dianggap “kecil” mampu memaksa dunia kaget.

Dan itulah yang dilakukan Cabo Verde.

Apa yang saya tonton, sepanjang pertandingan, Tim Tanjung Verde bermain tanpa rasa takut. Mereka menyerang, bertahan, menekan, dan beberapa kali membuat Argentina kerepotan. Jual beli serangan dan kejar-kejaran score. Stadion menjadi saksi bagaimana sebuah negara kecil mampu berdiri sejajar menghadapi raksasa sepak bola dunia.

Argentina memang akhirnya menang (3 – 2). Tetapi Cabo Verde pulang dengan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar hasil pertandingan: kehormatan dan patriotisme.

Bayangkan. Negara kepulauan di Samudra Atlantik itu hanya berpenduduk sekitar setengah juta jiwa—kurang lebih setara dengan satu kabupaten di Indonesia. Namun mereka berhasil mencapai panggung terbesar sepak bola dunia.

Prestasi seperti itu tidak lahir dari kebetulan. Ia lahir dari pembinaan yang konsisten, tata kelola yang profesional, disiplin, dan keyakinan bahwa ukuran negara tidak pernah menentukan besarnya mimpi.

Selesai pertandingan, pikiran saya justru tidak terlalu lama berhenti pada Messi atau kemenangan Argentina.

Yang terus mengganggu pikiran saya adalah hal lain.

Para pemain Piala Dunia sesungguhnya bukan hanya atlet profesional. Mereka adalah duta bangsa.

Ketika Cabo Verde tampil di Piala Dunia, seluruh dunia mendadak ingin tahu: di mana letak negara itu? Berapa jumlah penduduknya? Bagaimana sejarahnya? Seperti apa budayanya?

Sepak bola ternyata menjadi diplomasi paling efektif.

Tanpa pidato, tanpa seminar, tanpa konferensi internasional, sebelas orang pemain berhasil memperkenalkan negaranya kepada miliaran pasang mata.

Itulah kekuatan olahraga. Bahkan dalam Islam diajarkan “al-riyadhah dakhlun kabirun fi taqaddami al-ummah” (Olahraga memiliki peran penting dalam kemajuan bangsa) menekankan bahwa aktivitas fisik bukan sekadar sarana hiburan, melainkan pilar penting dalam pembangunan peradaban manusia

Bahkan, saya kemudian mencari tahu bahwa Cabo Verde baru merdeka pada 5 Juli 1975. Artinya, besok negara itu merayakan hari kemerdekaannya yang ke-51. Sebuah negara muda yang berhasil mengirimkan pesan kepada dunia bahwa mimpi besar tidak selalu membutuhkan wilayah yang luas atau jumlah penduduk yang besar.

Lalu pikiran saya melayang ke Indonesia.

Negeri dengan lebih dari 285 juta penduduk. Kaya sumber daya. Pecinta sepak bola yang luar biasa fanatik. Infrastruktur semakin membaik. PSSI kini dipimpin oleh Erick Thohir, Menpora, pengusaha, profesional, sosok yang memiliki pengalaman panjang dalam manajemen sepakbola internasional.

Pertanyaannya sederhana.

Jika Cabo Verde bisa, mengapa Indonesia tidak?

Tentu jawabannya tidak sesederhana membandingkan jumlah penduduk atau luas wilayah. Sepak bola modern dibangun oleh pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat, kepemimpinan yang profesional, sport science, disiplin, dan budaya kerja yang konsisten selama bertahun-tahun.

Tidak ada jalan pintas menuju Piala Dunia.

Karena itu, mudah-mudahan pelatih Timnas Indonesia John Herdman, tugasnya bukan sekadar menyusun strategi untuk memenangkan pertandingan. Ia juga berkewajiban membangun harapan sebuah bangsa.

Saya berharap Indonesia dapat belajar dari Cabo Verde.
Belajar bahwa negara kecil tidak pernah merasa kecil.
Belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Dan belajar bahwa ketika sebelas pemain memasuki lapangan, yang mereka bawa bukan hanya bola, melainkan juga martabat, harga diri, dan nama baik bangsanya.

Pada akhirnya, Piala Dunia bukan sekadar tentang siapa yang mengangkat trofi.

Ia juga tentang bagaimana sebuah bangsa memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Semoga di Piala Dunia FIFA 2030, giliran Indonesia yang membuat dunia bertanya:

“Bagaimana negeri NKRI ini berhasil sampai ke sini?”

Dan semoga saat itu, Merah Putih berkibar bukan sebagai penonton, tetapi sebagai peserta yang disegani.

Makassar, 4 Juli 2026

  • Bagikan