KKN UNM di Wajo, Plt Rektor Mendorong Kembangkan Potensi Lokal

  • Bagikan

WAJO, RAKYATSULBAR.COM- Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Wajo didorong mengembangkan potensi setempat melalui gagasan dan program yang inovatif. Kegiatan KKN itu mencakup bidang kesehatan, ekonomi, lingkungan, pendidikan, administrasi, keagamaan, dan pelestarian budaya lokal.

Pesan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Rektor UNM Prof. Dr. Farida Patitingi, S.H., M.Hum., saat melakukan kunjungan lapangan di Kabupaten Wajo, Jumat (23/10/2026). Ia mengapresiasi mahasiswa yang dinilai telah menerjemahkan potensi daerah ke dalam tujuh program KKN, dengan bimbingan dosen dan dukungan pemerintah daerah.

“Ber-KKN adalah latihan menjadi cendekiawan,” kata Farida. Menurut dia, mahasiswa merupakan calon cendekiawan yang kelak hadir di tengah masyarakat. Ia mengutip pandangan almarhum Prof. Dr. B.J. Habibie bahwa kecendekiaan seorang ilmuwan tercermin dari dampak yang diberikan kepada masyarakat dan lingkungan.

Selain itu, ia memotivasi para mahasiswa untuk menyerap dan menghormati nilai demokrasi lokal Wajo yang telah mengakar ratusan tahun. “Orang Wajo merdeka dalam berdemokrasi, dan “Adat” menjadi penuntun dalam berdemokrasi yang harus dijunjung tinggi sepanjang zaman,”.

Menyinggung KKN tematik, KKN reguler, maupun KKN literasi, Prof.Farida menyarankan untuk melakukan reorientasi program sehingga bisa menjadi bagian dari upaya UNM untuk mendorong seluruh LPTK melakukan revitalisasi kurikulum penyiapan guru profesional di Indonesia dari hulu hingga hilir. Jika ini kita lakukan maka dapat saja KKN dilaksankan selama satu semester. Farida menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah,

masyarakat, dosen pembimbing, serta mahasiswa atas kerja sama dalam pelaksanaan KKN.

Kepala Pusat KKN UNM Dr. Suarlin, M.Pd., mengatakan mahasiswa perlu memahami tiga unsur yang lekat dengan Wajo, yakni sutra, Cina, dan As’adiyah. Ketiganya, menurut dia, tidak hanya menjadi bagian dari budaya setempat, tetapi juga berkaitan dengan dinamika bisnis dan kehidupan keagamaan.

Suarlin mengingatkan bahwa KKN merupakan bagian dari perkuliahan di luar kampus yang memiliki bobot empat satuan kredit semester (SKS). Karena itu, kegiatan di lokasi KKN perlu dijalani dengan kesungguhan sebagaimana perkuliahan di ruang kelas.

Asisten I Pemerintah Kabupaten Wajo H. Ahmad Jahran, M.AP., M.Si., yang mewakili pemerintah daerah, menjelaskan bahwa istilah “Cina Wajo” merujuk pada semangat berdagang masyarakat Wajo yang dikenal kuat. Ia juga menyebut Sengkang sebagai kota sutra dan mendorong UNM mengembangkan inovasi budidaya ulat sutra yang tahan terhadap pestisida. Inovasi tersebut dinilai penting agar penggunaan pestisida dalam pertanian tidak bertentangan dengan pengembangan ulat sutra.

Di samping itu, Jahran menyambut positif wacana program KKN 6 bulan (satu semester) bagi mahasiswa calon guru yang disampaikan oleh Plt. Rektor UNM. Program tersebut dinilai sangat strategis dan relevan (link and match) untuk menjawab kebutuhan tenaga pendidik di wilayah perdesaan-JDM

  • Bagikan