Rektor UNM: Lulusan Harus Berintegritas dan Siap Bersaing Global, Alumni Tekankan Pendidikan sebagai Amanah

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Farida Patitingi, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Lebih dari itu, universitas harus melahirkan insan yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki daya saing tinggi di tengah kompetisi global yang kian ketat.

Dalam sambutannya pada sebuah forum akademik, Rektor menyampaikan bahwa UNM terus berupaya merumuskan strategi terbaik untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Upaya tersebut diarahkan agar lulusan tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga matang secara moral dan siap berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional.

“Pendidikan itu mengukuhkan posisi seseorang di masyarakat. Karena itu, mereka yang terdidik harus menjadi teladan—strong model—bukan sebaliknya,” ujar Rektor, dengan nada reflektif namun tegas.

Ia menambahkan, kekuatan utama dalam meraih keberhasilan terletak pada pengetahuan. “Knowledge is the strong power of success,” katanya, menekankan bahwa penguasaan ilmu harus diiringi dengan integritas dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Di hadapan para alumni dan calon alumni, Rektor juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi kejujuran dalam berkompetisi. Ia mengajak para lulusan untuk tidak sekadar mengejar keberhasilan, tetapi juga menjaga nilai moral sebagai fondasi utama dalam berkarya.

Lebih jauh, Rektor membagikan tiga prinsip hidup yang sederhana namun relevan di tengah tekanan kehidupan modern.

Pertama, menghindari sikap membenci dan membangun pola pikir positif. Kedua, tidak membandingkan diri dengan orang lain, melainkan fokus pada pengembangan diri. Ketiga, tidak terjebak dalam kekhawatiran, melainkan menumbuhkan optimisme dalam menghadapi masa depan.

Menutup sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan keluarga alumni. “Kepercayaan yang diberikan kepada UNM adalah amanah yang kami jalankan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan alumni, Whannie Youngger Oeitama, menghadirkan perspektif yang lebih personal namun sarat makna. Ia mengutip pesan tokoh dunia Nelson Mandela, bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi perjalanan membentuk cara berpikir, keberanian menghadapi kegagalan, dan kesiapan menghadapi tantangan hidup.

Sebagai penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Kementerian Pendidikan, Whannie menegaskan bahwa status sebagai awardee bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. “Ini adalah amanah untuk terus belajar dan membuktikan bahwa kita layak,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada orang tua dan keluarga. Baginya, keberhasilan yang diraih hari ini tidak lepas dari cinta, kesabaran, dan kepercayaan yang diberikan oleh keluarga.

“Karena orang tua, kami tidak pernah benar-benar merasa lelah. Karena mereka, kami tetap melangkah bahkan ketika diliputi keraguan,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan zaman, pesan yang mengemuka dari forum tersebut terasa jelas: pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi tentang membangun manusia utuh—yang mampu berpikir jernih, bersikap jujur, dan bertindak bertanggung jawab di ruang publik. Sebuah pengingat bahwa kualitas lulusan, pada akhirnya, akan menentukan arah masa depan bangsa. (*)

  • Bagikan