PALU, RAKYATSULBAR.COM – Kepala Karantina Sulawesi Selatan selaku Koordinator Regional Sulawesi, Sitti Chadidjah mendampingi Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean, dalam kegiatan pelepasan ekspor durian beku asal Sulawesi Tengah tujuan Tiongkok sebanyak 459 ton dengan nilai Rp42,5 miliar pada Kamis (16/4) di Palu, Sulawesi Tengah.
Kehadiran Koordinator Regional Karantina Sulawesi ini menegaskan peran strategis dalam memastikan kesiapan teknis dan operasional di wilayah Sulawesi. Pendampingan dilakukan mulai dari pengawasan pemenuhan persyaratan karantina hingga fasilitasi kelancaran proses ekspor di lapangan.
Dalam kegiatan pelepasan ekspor bertema Berani Ekspor Raya Durian, Kepala Barantin menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang pembukaan akses pasar durian Indonesia ke Tiongkok. Momentum penting terjadi saat penandatanganan Protokol Ekspor Durian Beku antara Indonesia dan otoritas Tiongkok pada 25 Mei 2025.
Koordinator Regional Karantina Sulawesi turut memastikan implementasi protokol tersebut berjalan konsisten di wilayah kerja. Hal ini mencakup pengawasan keamanan pangan, jaminan kesehatan komoditas, serta kepatuhan terhadap standar internasional yang dipersyaratkan oleh Tiongkok.
Pelepasan ekspor ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung kebijakan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas pertanian nasional.
Dari sisi logistik, ekspor langsung ke Tiongkok memberikan dampak signifikan. Waktu pengiriman berkurang dari 56 hari menjadi 22-26 hari. Biaya logistik juga turun hingga dua kali lipat. Efisiensi ini memberi keuntungan bagi pelaku usaha dan memperkuat arus kas produksi.
Kepala Barantin menyampaikan apresiasi atas kolaborasi seluruh pihak. la menegaskan bahwa keberhasilan ekspor ini merupakan hasil kerja bersama antara petani, pelaku usaha, pemerintah daerah, serta kementerian dan lembaga terkait.
Hingga saat ini, tercatat 151 kontainer telah diberangkatkan ke Tiongkok dengan nilai ekonomi mencapai Rp377,5 miliar. Perjalanan ekspor durian beku Indonesia sebelumnya cukup panjang. Produk durian sempat diekspor melalui negara perantara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Indonesia saat itu hanya berperan sebagai pemasok bahan baku.
Melihat peluang pasar yang besar, Badan Karantina Indonesia mengambil langkah strategis dengan menjalin komunikasi intensif dengan otoritas Tiongkok. Pendampingan juga dilakukan kepada eksportir agar memenuhi standar internasional.
Hasilnya, ekspor langsung berhasil diwujudkan pada Desember 2025. Permintaan durian di Tiongkok mencapai sekitar USD 8 miliar per tahun. Indonesia menargetkan dapat mengisi 5-10 persen pangsa pasar. Potensi devisa diperkirakan mencapai Rp6,4 hingga Rp12,8 triliun per tahun
Durian beku yang diekspor meliputi pulp, puree, dan buah utuh. Seluruh produk harus melalui proses pembekuan cepat pada suhu -30°C atau lebih rendah dan dipertahankan pada suhu inti -18°C. Seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan produk bebas dari kerusakan dan kontaminasi.
Koordinator Regional Karantina Sulawesi juga memastikan bahwa seluruh eksportir telah memenuhi persyaratan. Ini mencakup registrasi kebun durian, sertifikasi rumah kemas, serta penetapan fasilitas ekspor oleh Badan Karantina Indonesia.
“Ekspor ini bukan sekadar pelepasan komoditas. Ini bukti bahwa sistem karantina kita mampu menjamin mutu, keamanan, dan daya saing produk pertanian Sulawesi. Kami di regional Sulawesi akan terus kawal dari hulu sampai hilir, supaya durian kita bisa berdiri kuat di pasar global, khususnya Tiongkok,” tutupnya. (*)








