Oleh: J.Daud M.
MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Ada suasana yang berbeda di Ballroom Teater Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu 27 Mei 2026. Setelah lebih dari setahun tidak melaksanakan pengukuhan Guru Besar, UNM kembali menghidupkan tradisi akademik tertinggi itu dalam sebuah momentum yang sarat makna: dalam rangka menyambut peringatan Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2026.
Pengukuhan kali ini terasa istimewa bukan hanya karena menandai berakhirnya masa vakum pengukuhan profesor, tetapi juga karena sejumlah simbol dan pesan yang mengiringinya.
Yang pertama, jumlah profesor yang dikukuhkan tepat lima orang, seolah menjadi representasi akademik dari lima sila Pancasila yang diperingati bangsa Indonesia. Kelima profesor tersebut adalah:
- Prof. Dr. Sudirman Burhanuddin, M.S., AIFO (Ilmu Fisiologi Olahraga),
- Prof. Dr. Syahruddin, M.Kes., AIFO (Pendidikan Jasmani dan Olahraga Adaptif),
- Prof. Dr. Ilham Kamaruddin, S.Pd., M.Pd. (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan),
- Prof. Dr. Hasyim, S.Pd., M.Pd. (Pendidikan Olahraga dan Kesehatan),
- Prof. Dr. Irvan, S.Pd., M.Kes. (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dengan kekhususan Olahraga Squash).
Bagi banyak peserta yang hadir, simbolik lima profesor dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila menghadirkan pesan bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kebangsaan sesungguhnya berjalan beriringan.
Orasi yang Hidup dan Menginspirasi
Keistimewaan kedua terletak pada kualitas orasi ilmiah yang disampaikan. Lazimnya, orasi profesor sering dipersepsikan sebagai pidato akademik yang berat dan formal. Namun kali ini berbeda.
Kelima profesor berhasil menghadirkan orasi yang hidup, komunikatif, dan mudah diikuti. Masing-masing membawa perspektif yang unik, mulai dari fisiologi olahraga, pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas, physical literacy, kesehatan masyarakat berbasis aktivitas fisik, hingga olahraga squash sebagai wahana pembentukan karakter.
Peserta yang memadati ruangan tampak mengikuti jalannya orasi dari awal hingga akhir dengan antusias. Tepuk tangan berkali-kali terdengar bukan hanya sebagai penghormatan akademik, tetapi juga sebagai apresiasi terhadap gagasan-gagasan yang relevan dengan tantangan bangsa masa kini.
Lautan Jas Majelis Profesor
Keistimewaan ketiga adalah pemandangan yang jarang terlihat sebelumnya di lingkungan UNM.
Puluhan bahkan ratusan profesor hadir mengenakan Jas Majelis Profesor UNM berwarna khas yang estetis dan berwibawa. Kehadiran para guru besar dalam jumlah besar menciptakan suasana akademik yang megah sekaligus mengharukan.
Banyak dosen senior menyebut bahwa jumlah profesor yang hadir pada pengukuhan kali ini merupakan salah satu yang terbanyak sepanjang sejarah pengukuhan profesor di UNM.
Pemandangan tersebut seakan menegaskan bahwa komunitas akademik tertinggi di UNM semakin solid dan memiliki semangat baru untuk mendorong kemajuan universitas.
Sambutan Rektor yang Merangkum Lima Orasi Menjadi Satu Narasi Besar
Puncak kekuatan intelektual acara justru muncul pada sambutan Rektor UNM, Farida Patitingi.
Dalam sambutannya, Rektor tidak sekadar memberikan ucapan selamat kepada para profesor yang dikukuhkan. Ia berhasil merangkum lima orasi yang berbeda menjadi satu narasi besar tentang pembangunan manusia Indonesia.
Menurut Rektor, kelima orasi tersebut sesungguhnya membentuk satu ekosistem keilmuan yang utuh.
Ia menjelaskan bahwa Prof. Sudirman meletakkan fondasi saintifik tentang tubuh manusia sebagai sistem adaptif yang dapat dibentuk melalui intervensi fisiologis yang terukur. Prof. Ilham menghadirkan kerangka pedagogis untuk menanamkan budaya bergerak sepanjang hayat. Prof. Syahruddin menjaga dimensi keadilan agar pendidikan menjangkau semua anak, termasuk penyandang disabilitas. Prof. Irvan menunjukkan bagaimana olahraga berbasis sains dapat membentuk karakter dan mental generasi pemenang. Sementara Prof. Hasyim menghubungkan seluruh gagasan tersebut dengan teknologi, komunitas, kebijakan nasional, dan agenda global.
Dalam salah satu bagian yang paling mengesankan, Rektor menyimpulkan:
“Dari laboratorium fisiologi hingga lapangan squash, dari ruang kelas inklusif hingga platform digital kesehatan, kelima jalan keilmuan ini bertemu pada satu muara: generasi Indonesia yang sehat secara fisik, melek secara gerak, inklusif secara sosial, tangguh secara karakter, dan berdaya saing secara global.”
Rektor kemudian menegaskan bahwa inilah wajah UNM dalam membangun manusia seutuhnya menuju Indonesia Emas 2045, di mana ilmu keolahragaan tidak lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai instrumen pembangunan peradaban bangsa.
Bagi banyak hadirin, kemampuan Rektor merangkum lima orasi yang berbeda menjadi satu gagasan besar dan utuh merupakan salah satu sambutan pengukuhan profesor terbaik yang pernah disampaikan di UNM.
Komitmen Mempercepat Pengukuhan Profesor
Keistimewaan kelima datang dari komitmen yang disampaikan Rektor terhadap percepatan lahirnya profesor-profesor baru di UNM.
Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa UNM akan terus memperkuat ekosistem yang mendukung percepatan jabatan akademik Guru Besar melalui peningkatan dana penelitian, insentif publikasi internasional bereputasi, serta penguatan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi.
Saat ini UNM memiliki 182 Guru Besar dan 277 Lektor Kepala yang menjadi sumber utama calon profesor berikutnya. Rektor menyatakan optimisme bahwa momentum ini harus terus dijaga agar lahir lebih banyak Guru Besar dalam waktu yang tidak lama lagi.
Bahkan, dalam arahannya kepada Majelis Profesor, Rektor memberikan dukungan penuh agar pengukuhan profesor dapat dilaksanakan lebih sering sepanjang tahun 2026. Ia juga menyatakan kesediaannya menyesuaikan agenda pimpinan universitas dengan jadwal pengukuhan yang diajukan oleh Majelis Profesor demi mempercepat pengukuhan para Guru Besar yang telah memenuhi syarat.
Pancasila dan Ilmu Pengetahuan
Pengukuhan lima profesor pada Hari Lahir Pancasila 2026 menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik.
Ia menghadirkan pesan simbolik bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga relevansi Pancasila melalui ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Lima profesor, lima sila, satu semangat.
Semangat untuk membangun manusia Indonesia yang sehat, cerdas, inklusif, berkarakter, dan berdaya saing global.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, pesan yang mengemuka dari Menara Pinisi hari itu sederhana namun kuat: Pancasila memerlukan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan memerlukan insan-insan terbaik yang terus mengabdikan dirinya bagi kemajuan bangsa. (*)








