MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Di balik kunjungan Tim Islamic Development Bank (IsDB) ke Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, tersimpan perjalanan panjang yang telah dirintis selama hampir satu dekade. Harapan menghadirkan Fakultas Kedokteran yang lebih lengkap beserta laboratorium berstandar internasional kini semakin mendekati kenyataan.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Alauddin Makassar, Prof. Muhammad Amri, selaku Project Management Unit (PMU), mengungkapkan bahwa upaya menghadirkan pengembangan Fakultas Kedokteran telah dimulai sekitar sepuluh tahun lalu.
“Khusus untuk Fakultas Kedokteran, ini merupakan proses panjang. Sekitar sepuluh tahun kami berupaya mencari jalan agar pengembangannya dapat terwujud,” ujarnya.
Kesempatan tersebut hadir ketika Kementerian Agama memberikan peluang kepada seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mengajukan proposal pendanaan melalui skema Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN) yang kini bertransformasi menjadi Pinjaman Luar Negeri (PLN).
Menurut Prof. Amri, proses seleksi berlangsung sangat kompetitif. Dari seluruh PTKIN yang mengajukan proposal, tahapan seleksi kemudian mengerucut menjadi tujuh perguruan tinggi hingga akhirnya hanya menyisakan dua institusi, yakni UIN Alauddin Makassar dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
“Alhamdulillah, kita bisa sampai pada tahap ini. Jika seluruh proses berjalan sesuai harapan, ini akan menjadi pendanaan luar negeri terbesar yang pernah diterima PTKIN, dengan nilai mencapai sekitar Rp1 triliun,” ungkapnya.
Melalui proyek tersebut, UIN Alauddin merencanakan pembangunan Fakultas Kedokteran lengkap dengan laboratorium khusus, sekaligus Laboratorium Terpadu yang akan melayani kebutuhan praktikum seluruh fakultas. Fasilitas tersebut akan mencakup laboratorium bidang keagamaan maupun sains sehingga setiap fakultas memiliki dukungan laboratorium yang lebih representatif.
Prof. Amri menjelaskan bahwa site visit Tim IsDB merupakan tahapan verifikasi terhadap proposal yang telah diajukan UIN Alauddin pada akhir 2025. Selain melakukan pemeriksaan dokumen, tim juga meninjau lokasi pembangunan yang direncanakan di Kampus II dan Kampus III untuk memastikan kesiapan implementasi proyek.
Di luar agenda resmi, UIN Alauddin turut mengajak rombongan mengunjungi Kampus I beserta Rumah Sakit Pendidikan sebagai bentuk pengenalan terhadap potensi pengembangan layanan kesehatan di lingkungan universitas.
“Kami berharap komunikasi yang telah terjalin dapat membuka peluang kerja sama lanjutan untuk mendukung pengembangan fasilitas rumah sakit setelah proyek utama ini berjalan,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Amri menilai keberhasilan UIN Alauddin menembus tahapan akhir seleksi menjadi bukti atas kesiapan dan nilai strategis universitas dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam. Ke depan, UIN Alauddin diproyeksikan menjadi center of excellence pengembangan Fakultas Kedokteran bagi PTKIN di kawasan Indonesia Timur sekaligus menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain yang akan membuka program serupa.
Menurutnya, rangkaian site visit yang ditutup melalui exit meeting menjadi bagian dari proses evaluasi sebelum proyek memasuki tahapan penandatanganan perjanjian dan implementasi. Pembangunan direncanakan berlangsung secara bertahap selama lima tahun dengan target penyelesaian pada 2031.
Prof. Amri berharap proyek tersebut tidak hanya menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat kapasitas riset, serta menghadirkan fasilitas pendidikan berstandar internasional bagi sivitas akademika UIN Alauddin Makassar. (*)








