MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM– Calon Ketua Umum Persatuan Alumni Teknik Sipil (PATSi) Universitas Muslim Indonesia (UMI) periode 2026-2030, Dr. Ir. H. Mahmud Lakaia, ST, MM, MSP, MT, membawa gagasan besar untuk mentransformasi organisasi alumni menjadi wadah yang tidak sekadar mempererat silaturahmi, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi alumni, almamater, dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Mahmud dalam Podcast Harian Rakyat Sulsel bersama Ir. Muhammad Akbar Rasyid (Kak Ocha), Jumat (12/6/2026), menjelang pelaksanaan Kongres II PATSi UMI yang akan digelar di Makassar.
Mahmud menilai PATSi memiliki potensi besar karena menghimpun ribuan alumni Teknik Sipil UMI yang kini berkiprah di berbagai bidang, mulai dari akademisi, birokrat, politisi, kontraktor, konsultan hingga sektor pertambangan.
“PATSi ini kalau menurut saya ada hal yang besar sebenarnya. Ibarat mutiara yang belum ditemukan tetapi memiliki makna yang besar, karena di situ berkumpul ribuan orang yang punya potensi,” ujarnya.
Menurut Anggota DPRD Sulsel dari Partai NasDem tersebut, potensi besar itu selama ini belum terkelola secara optimal. Karena itu, ia mengusung slogan “PATSi Pasti Berdampak” sebagai semangat perubahan organisasi.
“Pengertian berdampak itu adalah memberikan perubahan. Artinya keberadaan PATSi ini bukan lagi tempat semata-mata ngopi-ngopi bareng atau kumpul bareng, tetapi sudah bisa memberikan nilai tambah,” katanya.
Mahmud mengaku terdorong maju dalam kontestasi Ketua Umum PATSi karena panggilan moral sebagai alumni. Ia ingin memberikan kontribusi nyata kepada organisasi yang menurutnya lahir dari semangat kebersamaan para alumni Teknik Sipil UMI.
“Saya harus memberikan kontribusi kepada organisasi di mana saya dilahirkan dan di mana saya memulai aktivitas saya sampai saya seperti ini,” ungkapnya.
Dalam paparannya, Mahmud menekankan pentingnya membangun organisasi berbasis sistem, kolaborasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Salah satu program yang disiapkan adalah penguatan hubungan antara PATSi, Jurusan Teknik Sipil UMI, dan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS).
Ia menginginkan setiap lulusan baru tidak langsung terlepas dari ekosistem alumni, melainkan mendapat ruang pembinaan melalui pengayaan keilmuan yang melibatkan para senior berpengalaman.
“Kita lakukan pengayaan keilmuan. Senior-senior yang punya pengalaman di konstruksi, konsultan, birokrasi maupun dunia profesional bisa berbagi kepada adik-adik yang baru lulus,” jelasnya.
Selain penguatan kaderisasi, Mahmud juga menaruh perhatian besar pada transformasi digital organisasi. Menurutnya, era Society 5.0 menuntut alumni Teknik Sipil untuk menguasai teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI).
“Semua yang saya lakukan sekarang, termasuk desain grafis dan mengajar menggunakan AI. Ini perkembangan yang sangat cepat dan harus kita kuasai,” katanya.
Ke depan, ia berencana menggagas konsep “PATSipedia”, sebuah platform yang dapat menyediakan pelatihan, sertifikasi, hingga ruang berbagi pengetahuan yang dikelola alumni. Selain meningkatkan kompetensi anggota, program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber kemandirian ekonomi organisasi.
Mahmud bahkan menargetkan PATSi dapat dikenal secara nasional hingga internasional. Menurutnya, banyak alumni Teknik Sipil UMI yang telah berkiprah di berbagai negara dan perlu dihimpun dalam sebuah jaringan global.
“Kami punya harapan PATSi ini akan kita go internasional,” tegasnya.
Ia menyebut keberadaan alumni di sejumlah negara, termasuk kawasan ASEAN, harus menjadi modal untuk memperluas kerja sama profesional, pertukaran informasi teknologi konstruksi, hingga membuka peluang kerja bagi generasi muda Teknik Sipil UMI.
Tidak hanya itu, Mahmud juga berkomitmen membangun komunikasi dengan organisasi alumni Teknik Sipil dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk melahirkan gagasan dan rekomendasi yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
Menjelang Kongres II PATSi UMI, Mahmud mengajak seluruh pemilik suara untuk menjadikan forum tersebut sebagai ajang adu ide dan gagasan, bukan sekadar kontestasi organisasi.
“PATSi ini adalah perang ide dan gagasan. Tidak ada senior dan junior. Yang ada adalah bagaimana kita meramu ide terbaik untuk kemajuan organisasi,” ujarnya.
Di akhir podcast, Mahmud menegaskan bahwa PATSi membutuhkan perubahan cara pengelolaan agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Kita tidak boleh lagi berada di zona nyaman. Organisasi ini tidak boleh dikelola secara konvensional, harus profesional,” tegasnya.
Ia berharap Kongres II menjadi momentum lahirnya semangat baru untuk membawa PATSi menjadi organisasi alumni yang lebih kuat, modern, dan memberikan manfaat nyata bagi almamater, alumni serta masyarakat luas.








