Bersama Stranas PK, Badan Karantina Indonesia Kawal Implementasi NLE

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Tim Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) menggelar Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Implementasi National Logistics Ecosystem (NLE) di Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Selatan (Karantina Sulawesi Selatan), Rabu (5/8). Kegiatan ini menjadi forum untuk mengevaluasi pelaksanaan NLE sekaligus membahas percepatan integrasi layanan logistik nasional di Sulawesi Selatan.

Rapat koordinasi ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia, Shahandra Hanitiyo, dan dihadiri Koordinator Harian Stranas PK sekaligus Direktur LHKPN KPK Herda Helmy Jaya, jajaran Badan Karantina Indonesia, Otoritas Bandara Wilayah V Makassar, KPPBC Type Madya Pabean B Makassar, Angkasa Pura Indonesia, PT Integrasi Aviasi Solusi (IAS), Regulated Agent (RA), asosiasi logistik, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam arahannya, Shahandra menegaskan bahwa implementasi NLE merupakan transformasi tata kelola logistik nasional yang hanya dapat berhasil melalui sinergi lintas instansi.

“National Logistics Ecosystem bukan sekadar digitalisasi layanan, tetapi transformasi tata kelola logistik nasional. Keberhasilannya sangat bergantung pada sinergi seluruh instansi sehingga mampu menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, dan terintegrasi,” ujarnya.

Menurut Shahandra, Badan Karantina Indonesia terus mendukung implementasi NLE melalui digitalisasi layanan, integrasi proses bisnis, dan penyederhanaan prosedur tanpa mengurangi fungsi utama karantina dalam melindungi sumber daya hayati Indonesia.

Komitmen tersebut tercermin dari capaian implementasi layanan digital di Sulawesi Selatan. Hingga 29 Juli 2026, implementasi Single Submission (SSM) Ekspor mencapai 99 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 92 persen. Sementara implementasi Single Submission Quarantine Customs (SSM QC) mencapai 98 persen, melampaui capaian nasional sebesar 93 persen.

Peningkatan layanan juga dilakukan melalui optimalisasi Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) di kawasan kargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Integrasi TPFT dengan Terminal Kargo yang dilengkapi fasilitas timbangan, X-Ray, dan cold storage berhasil memangkas waktu perpindahan kargo dari 50-70 menit menjadi sekitar 10-15 menit serta menyederhanakan proses penanganan dari enam menjadi dua titik layanan.

Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah, mengatakan keberhasilan implementasi NLE bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun layanan yang terintegrasi. “Melalui forum ini, kami berharap lahir berbagai solusi yang semakin mempermudah layanan logistik sekaligus tetap menjaga efektivitas pengawasan karantina,” tuturnya. Dalam rapat tersebut, para peserta juga membahas sejumlah langkah penyempurnaan implementasi NLE, di antaranya penerapan single billing, optimalisasi alur pemeriksaan Regulated Agent, serta penguatan integrasi sistem SSM Ekspor dengan sistem kepabeanan agar proses layanan semakin sederhana dan efisien.

Melalui sinergi bersama Stranas PK dan seluruh pemangku kepentingan, Badan Karantina Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat implementasi NLE guna mewujudkan layanan logistik yang semakin efisien, transparan, dan terintegrasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

  • Bagikan