Rindu dan Duka di Angin – Angin Rantepao, Toraja Utara

  • Bagikan

MAMUJU,RAKYATSULBAR.COM – Masih terngiang dibenak penulis saat – saat wajah Tante Turu’ tampil dilayar handphone miliknya kurang lebih sebulan lalu sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Komunikasi singkat via whatshap memberikan rasa ‘rindu’ yang tak bertepi. Ia sesekali menanyakan kabar keluarga yang bertahun tak bersua.

Kini rindu ini semakin nyata saat penulis berikhtiar ingin menghadiri hari terakhir almarhumah sebelum disemayamkan. Kebetulan waktu itu memasuki hari libur selama tiga hari perjalanan singkat di Toraja.

Darah Toraja menjadi motivasi besar penulis ingin kembali mengunjungi kampung halaman yang indah nan penuh pesona itu. Mengunjungi Toraja bukan hanya kali ini saja dilakukan, sudah beberapa episode semenjak duduk dibangku SMP hingga kuliah.

Toraja memang memiliki segudang spot wisata yang menarik untuk dikunjungi, tempat ini menjadi magnet bagi para turis lokal dan luar negeri. Menikmati indahnya alam dan budaya yang dimiliki kabupaten andalan pariwisata di Sulawesi Selatan itu memang tak ada habisnya.

Memasuki Toraja dihari pertama terasa beda, keadaan alam yang begitu kuat dengan pohon bambu dan pinus hampir memenuhi setiap sisi jalan. Begitu juga bukit batu yang menjulang tinggi. Udara dingin tiap saat merasuk jauh kedalam tubuh. Inilah suasana khas saat berada diatas ketinggian Toraja.

Daerah yang kami tuju adalah Lembang Angin – angin, Kecamatan Kesu’. Rantepao, Toraja Utara. Tempat ini menjadi kampung halaman dan kelahiran Ayah, Kakek, Nenek, Om, dan Tante Turu’. Bari Batu, begitu orang menyebut tempat itu.

Kampung dengan sejuta kenangan saat rindu, canda, tawa dan cerita Ayah masih kecil dulu. Bahkan kasih sayang Tante Turu’ memanjakan penulis dibelikan sandal dan baju kala itu.

Namun itu semua menjadi memori indah. Saat berada ditempat ini kepergian Tante Turu’ membuat perasaan kami diselimuti kesedihan. Jalan menuju rumah duka mulai dipadati mobil yang terparkir ditepi jalan.

Suasana mulai terasa penuh haru, tatapan rasa rindu dan sedih jadi satu saat bertemu sanak keluarga yang berdomisili dari sejumlah daerah seperti Kaltim, Sulteng, hingga Papua. Mereka juga datang untuk menghadiri pemakaman.

Kami pun dipersilahkan duduk di dekat dengan peti almarhumah. Kesedihan kembali melanda saat melihat wajahnya dibalik peti. Perasaan rindu tak dapat terelakkan lagi, “Tante tak sakit lagi,” kataku dalam hati.

Setelah beberapa hari, prosesi pemakaman akan dilaksanakan. Kami dan keluarga lainnya berkumpul. Tibalah wajah almarhumah tak lagi dapat kami pandangi, peti itu kini ditutup untuk terakhir kalinya dengan menggunakan paku diseluruh sudutnya. Airmatapun tiba-tiba tak kuasa jatuh begitu derasnya.

Peti almarhum diangkat secara bersama-sama. Ia dibawa ke tempat pemakaman terakhir. Tempat yang terbuat dari campuran semen beton itu memang sudah disiapkan lebih dulu.

Di tempat itu, almarhumah disatukan bersama dengan saudaranya yang lebih dulu meninggal. Dalam bahasa Toraja tempat pemakaman itu di sebut Patane.

Selama sebulan, Tante Turu’ ada dalam peti berwarna merah maron saat ia menghembuskan nafas terakhirnya Desember 2024 silam. “Dalam adat Toraja ia disebut masih sakit, tapi setelah dikebumikan baru dinyatakan telah meninggal,” ungkap Suli’.

Kini sudah setahun yang lalu sejak kepergian Tante Turu’. Rindu ini masih terus teringat saat – saat almarhumah masih hidup. Namun semua itu tinggal kenangan, semoga mendapatkan tempat disisi-Nya Amin,..

Penulis: Ayub Kalapadang

  • Bagikan