Hadir di UMI, Dosen Universiti Malaya Sampaikan Materi Human-Centered Digital Communication kepada Ratusan Mahasiswa Ilmu Komunikasi

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) bekerja sama dengan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Korwil Sulselbar menggelar Majelis Komunikasi 2026 dengan tema “Navigasi Masa Depan Interaksi Digital: Tren, Etika, dan Tantangan dalam Komunikasi Virtual”, Selasa (10/6), di Auditorium Al-Jibra UMI.

Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan menjadi bagian dari rangkaian Milad ke 72 UMI serta Milad ke 39 Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI.

Majelis Komunikasi 2026 menghadirkan dua narasumber berkompeten dari dalam dan luar negeri Hadir secara langsung Dr. Alem Febri Sonni, M.Si, Sekretaris Jenderal ASPIKOM Pusat sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, yang memaparkan tren dan dinamika komunikasi digital di Indonesia.

Sementara itu, perspektif internasional dihadirkan oleh Dr. Mohd Hafiz Faizal Mohamad Kamil, dosen Department of Media & Communication Studies Universiti Malaya, Malaysia, yang mengikuti kegiatan secara daring yang dipandu oleh Dr. Abdul Majid, M.Si, Koordinator Wilayah ASPIKOM Sulselbar sekaligus dosen Ilmu Komunikasi UMI.

Dalam forum ini, Dr. Mohd Hafiz Faizal Mohamad Kamil Memaparkan topik “Human-Centered Digital Communication: How AI, Social Media, and Metaverse are Changing Our Lives”, yang menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap inovasi teknologi.

Para peserta didorong untuk menjadi penjaga ekosistem digital yang mampu menguasai perangkat global secara cerdas tanpa kehilangan kearifan lokal, agar revolusi digital benar-benar membawa dampak positif bagi kualitas hidup masyarakat modern.

Sementara itu, Dr. Alem Febri Sonni, M.Si memaparkan materi bertajuk “Menavigasi Ruang Digital di Era Post-Truth: Pentingnya Literasi Budaya dalam Menangkal Disinformasi.” Ia menjelaskan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi arena pertarungan informasi yang kompleks.

Dengan lebih dari 212 juta pengguna internet aktif di Indonesia, masyarakat semakin rentan terhadap banjir disinformasi, hoaks, dan konflik identitas yang berkembang sangat cepat di media digital. Bahkan, konten yang memicu emosi seperti kemarahan dan ketakutan disebut menyebar jauh lebih cepat dibandingkan informasi faktual.

Karena itu, ia menekankan pentingnya verifikasi multimodal, termasuk penggunaan reverse image search dan analisis metadata, agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam penyebaran informasi keliru.

Melalui forum ini, Program Studi Ilmu Komunikasi UMI berharap dapat mendorong mahasiswa dan akademisi agar semakin kritis, adaptif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan komunikasi di era digital. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat jejaring kolaborasi antarpenguruan tinggi, baik di kawasan Sulawesi maupun di tingkat internasional, dalam pengembangan kajian ilmu komunikasi yang relevan dengan tantangan zaman.

Dekan Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan UMI, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., menegaskan bahwa penyelenggaraan Majelis Komunikasi 2026 merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam menghadirkan atmosfer akademik yang responsif terhadap perubahan zaman.

“FSIKP UMI terus mendorong kegiatan-kegiatan akademik yang tidak hanya memperkaya pengetahuan mahasiswa, tetapi juga membangun daya kritis, literasi digital, dan kesiapan mereka sebagai generasi yang akan hidup dan bekerja di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat. Kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen kami dalam memperkuat kualitas akademik yang adaptif dan berdaya saing,” ungkapnya.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMI, Dr. Zelfia, S.IP., M.M., M.Sos.I., menyampaikan bahwa Majelis Komunikasi 2026 menjadi ruang akademik yang sangat penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan tentang dinamika komunikasi digital yang terus berkembang.

“Kami ingin mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi komunikasi, tetapi juga memiliki kepekaan etis, budaya, dan akademik dalam memaknainya. Melalui Majelis Komunikasi ini, kami berharap lahir perspektif yang lebih luas dan kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi masa depan interaksi digital,” ujarnya.

  • Bagikan