MAROS, RAKYATSULBAR.COM – Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Ilmul Yaqin Tompobulu, Kabupaten Maros, kembali mencetak generasi Qurani melalui pelaksanaan Haflah At Takharruj Wa Khatmil Qur’an ke-V Tahun 2026 M/1448 H yang digelar di Onyx Ballroom Hotel Myko Makassar, Rabu (24/6/2026).
Sebanyak 147 santri resmi diwisuda, termasuk delapan santri penghafal Al-Qur’an 30 juz.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat diawali kirab santriwan dan santriwati memasuki ruangan utama.
Para santri tampil seragam mengenakan busana putih dipadukan jas abu-abu, sementara para tamu undangan disambut tarian paduppa dan atraksi bela diri yang menambah semarak acara.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan Ali Yafid, Ketua MUI Sulsel AGH Prof. Najamuddin Abduh Safa, Ketua MUI Kota Makassar AGH Baharuddin Abduh Shafa, Staf Ahli Bupati Maros Bidang Pendidikan Jamaluddin, serta pimpinan Ponpes Tahfidz Al-Qur’an Ilmul Yaqin Tompobulu Prof. HC KH Amirullah Amri.
Dalam kesempatan itu, KH Amirullah Amri menyampaikan rasa syukur atas capaian para alumni pesantren yang kini mampu melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri.
Beberapa di antaranya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, UIN, sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, hingga melanjutkan studi ke Turki, Mesir, dan Yaman.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa lulusan pesantren memiliki daya saing yang kuat di berbagai bidang. Ia menilai pola pendidikan yang disiplin, penguatan hafalan, serta dukungan tenaga pengajar yang kompeten menjadi faktor penting dalam membentuk kualitas lulusan.
“Anak-anak kita alhamdulillah bisa bersaing, bahkan, saya berkata santri kita unggul,” ujar KH Amirullah Amri.
Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak berhenti menuntut ilmu dan tetap menjadikan akhlak sebagai fondasi utama dalam kehidupan. Menurutnya, kecerdasan tanpa karakter yang baik tidak akan memberikan manfaat yang sempurna bagi diri sendiri maupun masyarakat.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid menekankan pentingnya menjaga amanah para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada pesantren.
Ia berharap para santri tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan beretika.
“Mohon jaga betul amanah orang tua itu kepada kita semuanya, supaya anaknya kurang lebih tiga tahun, enam tahun di sana, betul-betul memperoleh ilmu, memperoleh akhlak, dan tata krama yang baik,” katanya.
Ali Yafid juga menilai hadirnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2025 membuka peluang yang lebih besar bagi pengembangan pondok pesantren.
Dengan regulasi tersebut, perhatian pemerintah terhadap lembaga pendidikan keagamaan diperkirakan semakin meningkat, termasuk dalam aspek dukungan anggaran dan penguatan sumber daya manusia.
Mewakili Bupati Maros Chaidir Syam, Staf Ahli Bupati Bidang Pendidikan Jamaluddin menyampaikan bahwa wisuda bukan sekadar penanda selesainya masa belajar para santri.
Ia menyebut momen tersebut sebagai bentuk syukur atas perjalanan panjang dalam mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Sejalan dengan semangat generasi Qurani masa kini, momen ini adalah titik tolak pembuktian karakter mulia para lulusan di tengah masyarakat,” ucapnya.
Ia pun mengajak para lulusan untuk terus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh demi kemaslahatan umat dan lingkungan sekitarnya. (*)








