KNPI Sulsel Gelar Diskusi Syekh Yusuf, Arief Rosyid Hasan: Orang Muda Wajib Meneladani

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSULBAR.COM — Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Sulawesi Selatan menggelar diskusi bertajuk “Syekh Yusuf, Tasawuf, dan Politik” sebagai ruang refleksi atas warisan pemikiran dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari yang dinilai tetap relevan bagi generasi muda hari ini. Diskusi tersebut menghadirkan akademisi, aktivis, tokoh organisasi, dan mahasiswa lintas kampus di Makassar.

Dalam forum tersebut, Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf, Arief Rosyid Hasan, menegaskan bahwa orang muda Sulawesi Selatan wajib meneladani sosok Syekh Yusuf yang mampu memadukan spiritualitas, intelektualitas, dan keberanian perjuangan sosial dalam satu karakter kepemimpinan.

“Syekh Yusuf bukan hanya ulama besar, tetapi juga intelektual, aktivis, sekaligus pejuang kemanusiaan. Orang muda Sulawesi Selatan harus belajar dari beliau bahwa agama tidak boleh menjauhkan diri dari persoalan sosial dan kebangsaan,” ujar Arief.

Menurutnya, generasi muda hari ini perlu menghidupkan kembali semangat meritokrasi dan tradisi belajar tanpa henti sebagaimana dicontohkan Syekh Yusuf. Ia juga mengkritik kondisi politik yang sering kali hanya didominasi sirkulasi elite berbasis kedekatan keluarga dan nama besar.

“Sulawesi Selatan punya sejarah panjang sebagai wilayah kosmopolitan. Syekh Yusuf adalah simbol bahwa orang Makassar bisa mendunia karena ilmu, karakter, dan keberanian berpikir besar,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Harian KNPI Sulsel sekaligus akademisi UIN Alauddin Makassar, Dr. Muhammad Syaiful, menegaskan bahwa Syekh Yusuf saat ini bukan lagi sekadar tokoh lokal Sulawesi Selatan, melainkan figur internasional yang dihormati berbagai bangsa.

“Syekh Yusuf bukan lagi hanya milik Makassar. Beliau sudah menjadi tokoh internasional yang jejak perjuangannya dikenang sampai Afrika Selatan dan berbagai belahan dunia,” ujar Dr. Syaiful.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan intelektual dan spiritual Syekh Yusuf memperlihatkan pentingnya keterbukaan wawasan, tradisi merantau mencari ilmu, dan keberanian berdialog dengan dunia luar. Menurutnya, mahasiswa dan pemuda hari ini tidak boleh hanya aktif di ruang kelas, tetapi juga harus memperluas pengalaman sosial dan intelektual mereka.

Diskusi tersebut juga membahas bagaimana ajaran tasawuf Syekh Yusuf sesungguhnya tidak menjauh dari persoalan sosial-politik. Para pembicara menilai bahwa spiritualitas justru harus menjadi fondasi moral dalam menghadirkan politik yang berkeadaban, berpihak kepada rakyat kecil, dan menolak praktik kekuasaan yang koruptif.

Dalam kesempatan itu, Wakil Dekan UIN Alauddin Makassar turut menyampaikan gagasan menghadirkan “Syekh Yusuf Corner” sebagai pusat literasi, edukasi, dan pengembangan kajian tentang Syekh Yusuf di lingkungan kampus. Gagasan tersebut disebut telah mulai dikomunikasikan dengan Kementerian Kebudayaan dan akan disinergikan dengan agenda seminar internasional bertema Syekh Yusuf.

Selain itu, forum juga membahas rencana pengembangan film dan konten digital tentang Syekh Yusuf untuk menjangkau generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan kehidupan digital saat ini. Usulan memasukkan pemikiran dan sejarah Syekh Yusuf ke dalam kurikulum pendidikan di Sulawesi Selatan juga menjadi salah satu perhatian peserta diskusi.

Diskusi KNPI Sulsel ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan pemikiran Syekh Yusuf secara lebih kontekstual, bukan sekadar simbolik. Para peserta berharap nilai-nilai yang diwariskan Syekh Yusuf dapat melahirkan generasi muda yang religius, berilmu, berani, dan memiliki keberpihakan sosial yang kuat.

  • Bagikan