APTRINDO Resah, Kontrak Tak Terpenuhi Karena Antrean BBM

  • Bagikan

MAKASSAR, RAKYATSILBAR.COM- Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) resah, antrean panjang Bahan Bakar Solar (BBM) yang merupakan nyawa dari kendaraan sulit di dapat.

Tak tanggung-tanggung, antrean panjang yang terjadi hampir di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPKLU) yang tidak hanya terjadi di Makassar bahkan di berbagai Kabupaten memaksa pengendara antre hingga tiga hari tiga malam.

Dampaknya, jelas kerugian. Truk yang biasanya beroperasi 30 hari seminggu kini dipangkas hanya 15 bahkan ada yang hanya 10 hari. Biangnya tentu antrean BBM dan berujung pada kerugian.

“Waktu operasional pastinya berkurang, dan kami harus menambah biaya makan untuk supir truk kami yang harus antre selama tiga hari. Belum lagi ada yang kehilangan handphone saat mengantre, ini jelas merugikan,” beber Pengurus APTRINDO, Naharuddin dalam pertemuannya dengan pihak Pertamina di Kaori Cafe jalan Sawerigading Kamis (10/9/2026)

Sejalan dengan itu Ketua Karateket Aptrindo Sulsel, Salahuddin Kasim mengungkapkan kondisi antrean BBM kali ini dinilai yang terparah sejauh ini. “Antrean itu bisa sampai 1-3 hari di Kota Makassar. Kalau kita melihat juga di daerah-daerah, khususnya daerah poros Maros-Pangkep-Barru itu juga sudah sangat-sangat parah,” ungkapnya

Melihat kondisi tersebut, pihaknya kemudian berinisiatif untuk berkoordinasi dengan Pertamina. “Hari ini kami sudah jelaskan apa yang menjadi kendala kami kepada pihak Pertamina,” tambah Salahuddin.

Ia menjelaskan kendala bahan bakar ini para pengusaha Truk tak mampu memenuhi kontrak yang telah di sepakati sebelumnya dan berujung pada kerugian finansial.

“Dari para pengusaha ini ada kontrak-kontrak yang harus kita penuhi, akhirnya kami harus menanggung semua itu. Karena yang harusnya pekerjaan kita selesai dalam 2-3 hari, molor. Karena sudah ada kontrak, kita harus menanggung kerugiannya,” bebernya

Meski kontrak merupakan risiko bisnis, Salahuddin mengungkapkan pihaknya menantikan solusi dari pertamina agar tak rugi lebih besar. “Karena sampai saat ini kita cuma lihat di koran katanya terpenuhi nih kuotanya,” ucapnya

“Seperti yang saya sebutkan tadi, kontrak itu sudah ada. Mau tidak mau ini pengusaha ini harus menanggung dulu. Ini sudah risiko bisnis kita, tapi harus ada solusinya. Karena kita enggak bisa, enggak mungkin mau tanggung kerugian cost ini terus-menerus. Kalau untuk negosiasi adendum kontrak, itu bisa saja nanti terjadi, tapi itu alternatif terakhir. Saya yakin juga mitra bisnis itu akan mengerti kondisi ini. Tapi ya kembali kami butuh solusi,” ungkapnya.

Dari hasil pertemuan tersebut Salahuddin mengungkapkan pihak Pertamina memberikan solusi sementara untuk APTRINDO. “Mereka akan memberikan beberapa data-data beberapa SPBU yang memang diberikan kuota agak berlebih dari Pertamina. Yang kemudian juga akan ada pengaturan SPBU yang mana-mana saja yang bisa menerima truk-truk besar 10 roda ke atas misalnya. Karena saat ini kan yang bikin macet itu karena antreannya panjang sehingga menutup akses untuk mobil-mobil passenger, mobil umum untuk masuk. Akhirnya tambah parah. Ya itu kalau dari kami, itu cuma sementara,” jelasnya.

Meski mendapat solusi sementara, pihaknya berharap ada solusi jangka panjang sebab antrean BBM bukan hanya berdampak pada pengusaha truk akan tetapi pengusaha lainnya yang pada akhirnya akan memengaruhi perekonomian masyarakat.

“an perlu dicatat,, bahwa masalah ini bukan cuma terkena kepada para pengusaha-pengusaha truk saja. Pengusaha-pengusaha kuliner yang di sepanjang jalan provinsi itu karena truk itu ngantre di depan warung mereka. Akhirnya pelanggan-pelanggan yang tadinya mau masuk ke dalam enggak bisa. Mereka akhirnya harus menghadapi kerugian juga. Nah itu sebenarnya jadi berdampak, berdampak besar nih,” jelasnya

“Kemudian pengusaha angkutan laut misalnya, yang sebelumnya mungkin kapal-kapal mereka itu bisa masuk Makassar sampai 2-3 kali, ini mungkin dalam satu minggu itu cuma sekali saja beroperasi. Itupun mereka harus ngantre lebih lama lagi. Mudah-mudahan ke depannya kami harapkan Pertamina dan pemerintah tolonglah lihat kami ini di sini khususnya di Makassar.,” harapnya.

  • Bagikan