Oleh: Dr. KH. Masrur Makmur La Tanro (Ketua MUI Provinsi Bali/Presidium IAPIM/ Ketua ISMI Bali)
MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Biarkan masa lalu berlalu dan jangan berpegang teguh kepadanya.
دَعْ المَاضِي يَمْضِي وَلَا تَتَمَسَّكْ بِهِ
H eraclitus, seorang filsuf Yunani yang hidup 14 abad lalu, menjelaskan tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri Nothing endures but change. Hal senada pernah pula dinyatakan oleh Sir Winston Churchill, there is nothing wrong with change, if it is in the right.
Shohwatul Is’ad, sebagai lembaga pendidikan harus mampu berubah untuk memenuhi perkembangan teknologi, mengakomodir perkembangan zaman now.
Teori perubahan yang paling terkenal di dunia adalah 8 teori perubahan dari John Kotter, seorang leadership guru nomor satu di dunia versi Bussiness Week Dalam bukunya yang berjudul Leading Change.
Paradigma setiap orang melihat perubahan berbeda beda. Ada yang tak ambil peduli dengan perubahan. Mereka enjoy berada dalam zona nyaman dan kotak pandora. Menikmati status quo. Ada pula yang menyesuaikan diri dengan perubahan itu secara datar, wajar, dan sunnatulah. Namun, di antaranya ada yang menangkap peluang di arus perubahan itu. Merekalah the winner, menjadi pioner dimana pun mereka berkiprah.
Al islam yahtaju ila attagyir, walakinna taqyiru yubdau minkulli nafs…
Umat Islam harus berubah, dan perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Mereka mau upgrade diri tapi juga mengakui keunggulan orang lain. Tipikal seperti ini bisa eksis dimana-mana.
Menurut John Kotter, ada 8 langkah perubahan :
1.Incease Urgency
Menumbuhkan sense of urgency di mana setiap orang akan merasa terdorong untuk segera melakukan perubahan. Ada data dan fakta objektif menjadi pemicu sesegera mungkin melakukan perubahan.
Apatah lagi jika menggunakan hukum Pareto bahwa jika seseorang menginginkan berada di atas rata-rata, maka dalam diri selalu terpatri etos berupa dynamic spirit.
2. Build the Guiding Team
Membentuk tim yang akan memandu proses perubahan (agent of change). Tim ini disebut struktural yang memiliki antusiasme, komitmen, self confidence menjadi pioner dalam membawa aroma perubahan di pondok pesantren Shohid. Sebagaimana motto yang diusung sejak awal pendiriannya: One Team, One Spirit dan One Goal.
Penyamaan paradigma berpikir mengantarkan pada kekuatan tim. Tim yang kuat menjadi bridging meraih kemenangan.
3.Get The Right Vision
Menanamkan visi yang diwujudkan dalam bentuk strategic action: a. Menaikkan prosentase santriwati Shohid kelas 9 lanjut ke kelas 10. b. Penggunaan foreign language dimulai bulan Januari tahun 2025. c.Penanaman pedoman kerja Shohid kepada stake holder pondok Shohid sehingga menjadi corporate culture. d. Kemandirian kurikulum berwirausaha agar para santri tangguh, percaya diri, terampil, dan bekal menjadi future leader. e.Penggunaan media pembelajaran online (Taallum) oleh semua guru di Shohid. f. Penyempurnaan Bimbel Intensif Kelas 12 agar mampu dan terlatih menyelesaikan UMPTN. g. Mengintensifkan kehumasan demi syiar dan image dan citra pondok.
4. Communicating for Buy In
Visi dan strategi tadi siap diaplikasikan pada tahun ajaran baru 2024-2025 ini sehingga terjadi balancing antara capacity building dan individual capacity. Sarana dan SDM berjalan selaras-seimbang.
5. Empower Action
Mengawal secara efektif pelaksanaan ketujuh blue print itu serta yayasan memback up fasilitas yang mendukungnya.
Para struktural sebagai design thinking dan pengusung roda perubahan agar memelihara semangat antar-anggota struktural demi mewujudkan 7 masterpiece itu.
6. Create Short Term Win
Ciptakanlah kemenangan-kemenangan jangka pendek. Dalam proses perubahan, tidak bisa dicapai dalam tempo yang singkat maka dibutuhkan milestone-milestone kecil guna memberi tanda sudah sampai dimana proses perubahan yang dijalankan. Ada marking step by step dari bulan ke bulan menuju progres kesempurnaan.
Karena itu, kehadiran Pak Arif selaku representasi yayasan mengontrol dan mengevaluasi struktural agar mengetahui kesungguhan kinerja mereka. Yang berprestasi diberi reward, sebaliknya yang tidak memenuhi target dicoaching ulang.
7.Don’t Let Up
Jangan pernah berhenti, lanjutkan terus proses perubahan sebelum visi terwujud. Lakukan terus upaya untuk meningkatkan sense of urgency sehingga nyala api perubahan tidak redup di tengah jalan.
8. Make Change Stick
Pastikanlah agar perubahan tertanam sebagai budaya perusahaan sehingga mengakar sampai ke struktur organisasi yang paling bawah. Sarpras dan sopir pun harus memahami kebijakan umum pondok.








